Uncategorized

Serunya Bernostalgia di Semarang, Pesona Asia

rizkidwika
By rizkidwika 24 May 2017

Bagi sebagian orang, Semarang bisa jadi tak memiliki pesona semenarik Yogyakarta. Padahal, menurut saya, salah satu hal yang dapat diandalkan dari kota ini adalah banyaknya situs bersejarah yang merupakan objek wisata menarik untuk dikunjungi bersama keluarga atau teman-teman.

Terbukti, begitu memasuki pusat-pusat kota Semarang, saya merasa ditarik kembali ke beberapa abad silam, saat Semarang menjadi salah satu kota bandar terpenting di masa Hindia Belanda. Puluhan gedung-gedung peninggalan Belanda, kanal dan polder yang dibangun di masa lalu, juga sisa-sisa permukiman warga dari lintas suku budaya, masih bisa dirasakan dengan jelas di setiap sudut kota ini. Apalagi kini, Semarang yang mengusung tagline “Pesona Asia” terus berbenah agar menjadi destinasi pilihan para traveler.

Untuk memudahkan kamu saat akan berlibur ke Semarang, berikut tiga highlight perjalanan saya di Semarang beberapa waktu yang lalu dan mungkin bisa dijadikan panduan:

 

  • Menilik Cerita Heroik di Tugu Muda, Lawang Sewu, dan Sekitarnya

Tugu Muda (Sumber: Dok. Pribadi)

Salah satu bangunan yang paling terkenal di Semarang adalah Lawang Sewu. Nama Lawang Sewu ini berasal dari penamaan masyarakat lokal dalam bahasa Jawa yang artinya “pintu seribu”. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan. Gedung bekas kantor Jawatan Kereta Api di zaman Pemerintahan Hindia Belanda ini memiliki banyak pintu dan jendela besar yang dominan, bahkan bila dilihat dari tampak luar.

Dahulu, bangunan ini seringkali diidentikkan dengan cerita-cerita mistis karena kondisinya yang tidak terawat dan penjara bawah tanahnya yang terkenal angker. Namun, setelah direnovasi besar-besaran pada tahun 2013, dengan pencahayaan interior dan eksterior yang terang benderang, gedung yang dibangun pada akhir 1800-an ini sekarang menjadi bangunan yang paling romantis di Semarang.

Dengan tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang dan biaya tambahan Rp20.000 jika ingin menggunakan tour guide, saya bisa mengelilingi setiap sudut Lawang Sewu yang menceritakan seluk-beluk perkeretaapian di Indonesia. Selain itu, saya juga bisa mengetahui sejarah panjang dibangunnya gedung ini, mulai dari fungsinya sebagai perkantoran, markas militer, tempat penyiksaan pejuang Semarang yang melawan penjajahan, hingga akhirnya menjadi museum seperti sekarang.

Halaman dalam Lawang Sewu (Sumber: Dok. Pribadi)

Tepat di seberang Lawang Sewu, berdiri sebuah monumen di tengah-tengah bundaran bernama Tugu Muda. Pembangunan monumen ini diinisiasi langsung oleh Bung Karno sebagai bentuk penghargaan untuk keberanian rakyat setempat dalam pertempuran lima hari di Semarang, yang akhirnya menjadi lambang bagi kota ini sendiri. Waktu yang tepat untuk mengunjungi kedua tempat ini adalah pada malam hari. Jangan lupa untuk mencicipi jajanan kaki lima khas Semarang, seperti tahu gimbal, ketika mengunjungi tempat ini!

  • Napak Tilas Kolonialisme di Kota Lama

Gereja Blenduk (Sumber: Dok. Pribadi)

Kalau Jakarta punya Kawasan Kota Tua yang dulunya pusat Batavia, Semarang juga memiliki area bersejarah yang dilindungi bernama Kota Lama. Dari Simpang Lima yang merupakan salah satu landmark ikonis di sini, kawasan Kota Lama bisa ditempuh dengan berkendara kurang lebih 10 menit. Kota Lama memiliki puluhan bangunan bersejarah yang terhubung jalanan paving block dan penerangan jalan bergaya ala Eropa.

Beberapa bangunan yang berada di kawasan tersebut antara lain Stasiun Besar Semarang Tawang, Gedung Kantor Pos Pusat, Gereja Blenduk, Semarang Art Gallery, serta bangunan lainnya yang kini banyak beralih fungsi menjadi kafe maupun restoran tempat anak muda nongkrong setiap hari.

Pada malam hari, Taman Srigunting yang berada persis di sebelah Gereja Blenduk juga menjadi tempat yang tepat untuk memulai menjelajah Kota Lama tanpa takut terkena panasnya kota pinggir laut ini. Jika lapar di tengah penjelajahan, kamu tak perlu pusing. Ada banyak pilihan kuliner yang bisa kamu cicipi, di antaranya bakmi Jawa, nasi goreng babat, bakso kakap, dan nasi kucing.

  • Sam Poo Kong, Semawis, dan pengaruh Tionghoa

Sam Poo Kong (Sumber: Dok. Pribadi)

Berada di dekat Banjir Kanal Barat terdapat bekas peninggalan berusia ratusan tahun. Saya mengunjungi Sam Poo Kong, sebuah kelenteng yang dulunya merupakan sebuah masjid. Dulunya, Sam Poo Kong dibangun oleh penjelajah muslim, yaitu Laksamana Cheng Ho.

Bangunan Klenteng (Sumber: Dok. Pribadi)

Sejak dulu, Semarang memang dikenal sebagai salah satu kota tempat berbaurnya berbagai kultur dan suku bangsa, mulai dari Jawa, Arab, Eropa, serta Tionghoa. Mereka hidup berdampingan dan bermukim di Semarang selama beberapa abad dan saling memberikan pengaruh budayanya satu sama lain. Dari akulturasi itulah Semarang mendapatkan identitasnya, baik dari segi budaya dan termasuk kulinernya.

Salah satu tempat terbaik untuk mencicipi kuliner khas Semarang adalah di kawasan Pecinan Pasar Semawis, atau dikenal juga sebagai Waroeng Semawis. Di pusat kuliner itu, wisatawan dapat mencicipi setiap cita rasa makanan dan jajanan Semarang yang mendapatkan pengaruh dari berbagai budaya, sebut saja lumpia yang mendapatkan pengaruh besar dari budaya warga Tionghoa, hingga akhirnya jajanan ini terkenal sebagai kuliner khas dari Semarang.

***

Ada banyak pilihan moda transportasi yang bisa kamu pilih untuk ke kota ini. Kalau memilih menggunakan kereta dari Jakarta ke Semarang, kamu bisa memiliki berbagai opsi kereta sesuai kebutuhan dan waktu tempuh yang berbeda-beda (mulai dari enam sampai sembilan jam), dengan tujuan Stasiun Semarang Poncol atau Stasiun Semarang Tawang yang termasuk salah satu stasiun kereta pertama yang dibangun Hindia Belanda di Indonesia. Jika memilih menggunakan pesawat, kamu akan mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani.

Selain itu, Semarang sendiri memiliki ratusan penginapan mulai dari guest house, hostel, hingga hotel berbintang lima yang bisa disesuaikan dengan anggaran liburan yang kamu rencanakan. Dalam menentukan pilihan tempat menginap, saya menyarankan kamu untuk bermalam di kawasan seputar Simpang Lima yang menjadi titik pusat kota, supaya memudahkan untuk bepergian ke mana-mana. Apabila ingin merasakan pengalaman yang berbeda, menginap di kawasan perbukitan Semarang Atas juga menjadi salah satu pilihan bagi kamu yang ingin melihat gemerlapnya Semarang dari ketinggian di waktu malam.

Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !