4 Kegiatan Seru Saat Berakhir Pekan di Purwokerto

Bicara tentang Purwokerto, tak melulu tentang wisata Baturraden atau kuliner tempe mendoan saja. Lokasinya yang berada di tengah Pulau Jawa membuat kota ini tidak bisa mengandalkan pantai sebagai daya tarik wisata, sebagaimana daerah di Jawa tengah lainnya. Meski begitu, ibu kota Kabupaten Banyumas ini tidak pernah kehilangan potensi wisata yang bisa memanjakan para pengunjungnya.

Meski biasanya lebih  dikenal sebagai daerah transit bagi para pelancong yang ingin ke Dieng atau sekitarnya, kamu bisa menjadikan Purwokerto sebagai destinasi alternatif yang seru untuk menghabiskan akhir pekan. Dari pengalaman saya berkeliling di sana, terangkumlah kegiatan seru di Purwokerto versi saya sebagai berikut:

‘Keliling dunia’ di Taman Miniatur Dunia Purwokerto

Salah satu miniatur di Small World yang saat ini menjadi wisata andalan di Purwokerto. (Sumber: Dok. Pribadi)

Taman Miniatur Dunia atau lebih dikenal dengan nama Small World ini terletak di Desa Ketenger, Banyumas. Menempuh waktu kurang lebih setengah jam lebih dari pusat kota, saya disuguhi pemandangan alam yang indah sepanjang perjalanan. Untuk menuju ke Small World ini, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi atau taksi dengan tarif yang telah disepakati antara penumpang dan pengemudi. Biar lebih seru lagi, pakai cara saya, yaitu naik kendaraan umum!

Dari Purwokerto, kamu bisa naik angkot warna hijau tua rute Purwokerto – Baturraden, lalu turun di depan gerbang Desa Ketenger. Setelah itu, kamu harus jalan kaki menuju ke Small World sejauh kurang lebih 300 meter dengan kondisi jalan yang menanjak dan menurun. Jangan takut tersasar karena warga sekitar akan membantu kamu memberi arahan jalan dengan senang hati.

Small World ini sendiri adalah sebuah taman yang berisi berbagai miniatur karya arsitek terkenal dunia yang menjadi ikon suatu negara. Sebut saja Patung Merlion, Tugu Selamat Datang, Big Ben, Monas, Twin Towers, Colosseum, dan masih banyak lagi yang lainnya. Miniatur tersebut diatur sedemikian rupa agar menarik wisatawan untuk ber-selfie di sini.

Serunya lagi, Small World menyediakan penyewaan pakaian tradisional dan pernak-pernik khas negara tertentu, seperti kimono Jepang atau hanbok Korea untuk berfoto, sehingga kamu bisa merasakan sensasi seperti sedang mengunjungi negara aslinya.

Untuk masuk ke wahana yang selalu ramai oleh pengunjung ini, saya hanya merogoh kocek sebesar Rp15.000. Tempat wisata ini buka pukul 08:00 – 20:00 WIB.

Trekking 2,5 km menuju Pancuran Pitu

Kondisi jalan menanjak ketika trekking menuju Pancuran Pitu Purwokerto. (Sumber: Dok. Pribadi)

Pancuran Pitu merupakan salah satu sumber air panas bumi yang terdapat di lereng kaki Gunung Slamet. Pancuran Pitu termasuk salah satu objek wisata yang banyak didatangi pengunjung yang mampir ke Purwokerto. Nama Pancuran Pitu berasal dari bahasa Jawa, “pancuran” berarti air yang jatuh atau terjun dan “pitu” yang berarti tujuh. Jadi, Pancuran Pitu ini berarti air jatuh atau terjun yang berjumlah tujuh. Eksotisme utama Pancuran Pitu yang menjadi magnet bagi para pengunjung adalah air panas bumi yang mengandung belerang karena dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.

Ada dua cara untuk mencapai Pancuran Pitu, yang pertama adalah menggunakan kendaraan jurusan bumi perkemahan Baturraden dan yang kedua dengan cara yang lebih seru, yaitu trekking sepanjang 2,5 km dari gerbang lokawisata Baturraden melalui rute jalan setapak yang biasa dilalui warga lokal.

Selama trekking, kamu akan ditemani oleh udara sejuk khas pegunungan dan deretan keragaman hayati yang ada di lereng Gunung Slamet. Meski jalur yang dilalui cukup menguras tenaga karena tanjakan terjal dan sempit, perjuanganmu akan terbayar dengan suguhan alam yang membentang hingga ke kawasan Pancuran Pitu itu sendiri.

Pancuran Pitu dengan gradasi warna yang apik hasil dari endapan belerang yang teroksidasi.

Jangan khawatir bila merasa pegal selepas trekking karena ada jasa pijat  menggunakan endapan belerang dari air panas di Pancuran Pitu. Selain bisa menghilangkan pegal, khasiat lainnya juga dapat menghaluskan kulit.

Belajar sejarah perbankan di Museum BRI

Patung Raden Bei Arya Wirjaatmadja yang berdiri dengan gagah di gerbang Museum Bank BRI. (Sumber: Dok. Pribadi)

Dahulu, Bank Rakyat Indonesia atau BRI bernama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden. Salah satu BUMN ini didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja pada 16 Desember 1895 di Purwokerto. Oleh karena itu, Purwokerto terkenal sebagai kota kelahiran bank yang kini sudah tersohor seantero Indonesia itu.

Terletak di Jalan Bank, Museum BRI ini buka pada hari Minggu – Kamis, jam 08:00 – 15:00 WIB. Tidak sulit menemukan museum ini karena terletak di pinggir jalan besar dan terdapat patung Raden Bei Aria Wirjaatmadja yang berdiri gagah di depan gerbang masuknya.

Di Museum BRI, kamu bisa mengetahui sejarah berdirinya bank ini mulai zaman penjajahan hingga saat ini. Selain itu, kamu juga bisa belajar tentang perkembangan uang dari masa ke masa. Di sini, banyak koleksi barang dan peralatan yang dulunya dipakai untuk operasional bank, seperti mesin pembukuan, lemari besi, mesin penghitung uang, dan lainnya. Selain itu, ada juga replika bangunan cikal bakal BRI dan diorama tentang kegiatan perbankan di tempat-tempat seperti pasar tradisional pada zaman dahulu.

Berburu kuliner khas Purwokerto

Soto Jalan Bank, kuliner khas kota Purwokerto yang wajib dicoba.

Selain wisata alamnya yang mumpuni, satu hal lagi yang tidak boleh dilewatkan jika berakhir pekan di Purwokerto adalah berwisata kuliner. Meski tak sebanyak Yogyakarta atau wilayah tersohor di Jawa Tengah lainnya, Purwokerto memiliki warisan kuliner nusantara yang sayang jika dilewatkan.

Ketika saya berkuliner, makanan yang pertama kali saya cari adalah soto Sokaraja. Sebagaimana makanan khas lainnya, soto Sokaraja ini menjamur di seluruh wilayah Purwokerto. Selain itu, kamu wajib juga mencoba soto Jalan Bank yang berada tidak jauh dari Museum Bank BRI.

Soto Jalan Bank sudah terkenal di kalangan para pelancong. Meski begitu, demi menjaga kualitas rasa, penjual soto ini tidak membuka cabang di mana pun selain di Jalan Bank Purwokerto. Gurihnya kuah soto yang berpadu dengan sambal saus kacang mampu menggoyang lidah para penikmat kuliner, baik yang sekadar mampir atau memang sengaja khusus datang ke sini.  

Untuk menu sarapan, kamu bisa mencoba kuliner nasi pecel. Perbedaan nasi pecel Purwokerto dengan kebanyakan nasi pecel lainnya adalah adanya irisan kembang honje di dalam hidangan. Rasanya menjadi asam segar dengan wangi khas kembang honje atau kecombrang. Jangan lupa tambahkan mendoan ketika menyantap kuliner nasi pecel ini, ya!

Untuk buah tangan bagi keluarga dan kerabat terdekat, kamu bisa membeli getuk goreng. Makanan ini terbuat dari singkong yang diolah menjadi getuk, kemudian dicampur dengan gula aren. Getuk ini diolah dengan cara digoreng kering, sehingga membuat camilan ini memiliki rasa yang nikmat. Getuk goreng cocok dinikmati bersama dengan secangkir teh poci di sore hari.

Tak semua yang kecil itu berarti tak berpotensi, seperti Purwokerto. Menghabiskan akhir pekan di kota kecil dan tenang ini  memberikan pengalaman tersendiri bagi saya, karena nyatanya banyak sekali tempat wisata seru yang mungkin saja belum dijelajahi. Sekarang, giliran kamu yang harus mencoba pengalaman berakhir pekan di Purwokerto. Happy traveling!

1 Shares
Share1
Pin
Share
Tweet
+1