Pengalaman Pertama Menjelajah Busan Dalam 12 Jam

elsieolivia
By elsieolivia 29 March 2017

Artikel ini merupakan kontribusi dari pembaca*


Kalau sudah
nonton Train to Busan sebelum menginjakkan kaki di kota ini, mungkin saya tidak akan senekat ini. Bayangkan, saat itu waktu menunjukkan jam 10:30 malam dan saya masih berada di Stasiun Seoul menunggu kereta terakhir menuju Busan. Pandangan saya mengelilingi stasiun kereta yang luas itu. Tidak banyak orang, sehingga mudah bagi saya untuk mulai berpikir macam-macam. Sebenarnya, bagaimana saya bisa sampai di sini?

Busan menjadi tujuan saya yang ingin ‘membelot’ dari rombongan #TripBarengCK. Selama tiga hari, saya ikut trip bareng Claudia Kaunang, seorang traveler sekaligus motivator yang saya kagumi. Setelah mendapat izin untuk pergi sendiri ke Busan dan mendapatkan banyak tip dari Claudia Kaunang, saya beranikan diri ke Busan.

Selain merupakan pertama kali ke Busan, ini juga pertama kalinya saya naik kereta. Maklum, di Manado, kota asal saya, tidak ada kereta api. Untuk pengalaman pertama ini, saya langsung menempuh perjalanan yang lumayan lama, lima jam. Ditambah, saya sendirian saja ke Busan. Saya sangat bersemangat sekaligus deg-degan.

Kereta yang saya pilih adalah jenis Mugunghwa dengan tarif W28.600 atau kalau dirupiahkan sekitar Rp300.000. Saya membeli tiket secara online di Korail tepat sehari sebelumnya. Ada banyak kereta yang lebih cepat dan berkelas, tapi demi penghematan, saya memilih yang termurah saja. Untuk lebih berhemat lagi, saya memilih kereta dengan jadwal keberangkatan malam hari, jadi bisa sekalian tidur di kereta.

Menunggu di stasiun ternyata tak mudah. Saya harus beradaptasi dengan suhu udara yang mencapai -12º Celsius. Ini wajar karena saya berada di Korea Selatan di bulan Januari 2016 yang masih termasuk musim dingin.

Beruntung, beberapa menit kemudian kereta sudah tiba. Bangku sebelah saya ternyata kosong, saya cukup senang karena bisa meletakkan ransel di sana. Menjelang keberangkatan, penumpang mulai berdatangan tapi bangku sebelah saya masih kosong. Tepat pukul 22:50 waktu setempat, kereta diberangkatkan dan petualangan ke Busan pun dimulai!

Sedikit informasi tentang Busan, kota ini adalah yang terbesar kedua di Korea Selatan, setelah Seoul. Udaranya cenderung lebih hangat dibandingkan dengan Seoul, meskipun suhunya juga masih di bawah 0º Celsius di malam musim dingin.

Tepat jam 04:08 pagi, kereta tiba di stasiun Busan yang tidak kalah besar dari Seoul. Setelah memastikan segala sesuatu tidak ketinggalan, saya bergegas keluar dari stasiun.

Saya dijemput oleh teman Korea, seorang pria bernama HyoJin Song, yang baru saya kenal lewat Couchsurfing. Couchsurfing ini adalah sebuah situs web yang sangat membantu para traveler, khususnya saya sebagai budget traveler. Awalnya, tujuan utama saya hanyalah mengunjungi Gamcheon Cultural Village, sebuah kawasan wisata budaya yang cukup populer di sini. Tapi ternyata, Song membawa saya ke banyak tempat menarik lainnya.

1. Juk-Seong Church

Juk-Seong Church dengan latar pemandangan matahari terbit. (Foto: Dok. Pribadi)

Gamcheon Cultural Village baru dibuka untuk umum jam 09:00 pagi, sedangkan saya tiba jam 04:00 pagi. Untuk menghabiskan waktu sambil menunggu Gamcheon Cultural Village dibuka, Song mengajak saya ke sebuah lokasi syuting drama tempat melihat matahari terbit terindah di Busan, versi saya. Mereka menyebutnya Juk-Seong Church.

Lokasinya di pinggir pantai dan super romantis. Terlihat beberapa fotografer berburu pemandangan matahari terbit di sini. Angin bertiup cukup kencang, karena memang merupakan kawasan pantai.

Saya melihat cukup banyak pasangan muda yang duduk-duduk di area ini. Menurut teman saya, tempat ini sering dikunjungi pasangan muda-mudi untuk melihat matahari terbit. Di sini, ada chapel yang sengaja dibangun untuk kepentingan syuting, kursi couple dan beberapa properti drama yang mungkin dengan sengaja dibiarkan di situ sebagai daya tarik wisata.

Bangku yang merupakan sisa properti syuting. (Sumber: Dok. Pribadi)

Di musim dingin, matahari akan mulai terlihat sekitar jam 07:30 pagi. Kita bisa melihat warna merah muda bercampur oranye di laut sesaat sebelum terbit.

Ada kejadian yang cukup unik di sini. Saya dan Song sempat dikira sepasang kekasih. Ini saya ketahui saat seorang fotografer mendekati kami, ia berbicara dalam bahasa Korea, yang kemudian diterjemahkan oleh Song. Ternyata, ia meminta kami menjadi model dalam fotonya.

2. Geum-Nyeon-San Mountain

Salah satu foto yang diambil di Geum-Nyeon-San Mountain. (Sumber: Dok. Pribadi)

Selanjutnya, kami pergi ke salah satu gunung yang menjadi tempat pendakian populer di Busan, yaitu Geum-Nyeon-San atau Hwang Ryeong San. Mobil Song diparkir di bawah dan kami mendaki sekitar 30 menit ke atas. Hawa dingin dan angin kencang tak menghalangi kami untuk bisa sampai ke puncak. Medan yang kami lewati sudah cukup bagus sehingga tak butuh usaha ekstra untuk mendaki.

Puncak gunung ini tidak terlalu tinggi, di atasnya ada semacam beranda dan kedai kopi, tapi sayang saat itu masih belum buka. Menurut Song, saat musim panas, kita bisa melihat pulau terluar Jepang (saya tak menanyakan lebih lanjut mengenai pulau tersebut) melalui puncak ini. Dari sini pula, saya bisa melihat Heundae, yang merupakan salah satu pusat kegiatan bisnis di Busan.

3. Gamcheon Cultural Village

Saya dan Song menyempatkan diri untuk berfoto di Gamcheon Cultural Village. (Sumber: Dok. Pribadi)

Akhirnya, setelah menikmati pemandangan dari atas gunung, kami pun turun dan melanjutkan ke tujuan utama, Gamcheon Cultural Village. Tempat wisata ini memang sudah sangat populer di kalangan turis domestik dan asing.

Menariknya, Gamcheon Cultural Village tak hanya menjadi tempat wisata, tapi masih menjadi tempat pemukiman penduduk sekitar. Mereka melakukan aktivitas harian di tengah kerumunan turis yang berdatangan setiap hari.

Rumah-rumah di kawasan Gamcheon Cultural Village tampak seperti susunan Lego. (Sumber: Dok. Pribadi)

Perhatian pemerintah Korea Selatan terhadap tempat ini pun tak main-main. Di tahun 2009, Kementerian Kebudayaan melakukan renovasi besar-besaran dengan konsep barunya yang menjadikan Gamcheon Cultural Village sebagai salah satu daya tarik wisata utama di Korea Selatan. Kawasan ini pun disebut-sebut sebagai “Dreaming of Busan Machu Picchu”. Tapi menurut saya, kawasan ini lebih mirip Santorini di Yunani karena bangunan rumahnya menyerupai susunan Lego.

Saya membubuhkan stempel di peta. (Sumber: Dok. Pribadi)

Saatnya berkeliling! Kami membeli peta dan panduan lokasi wisata di kantor informasi seharga W2000 atau sekitar Rp20.000. Peta ini cukup unik karena dibuat layaknya peta harta karun. Setiap kali kami mengunjungi satu titik tertentu, kami bisa mendapatkan stempel khusus. Menantang sekaligus menyenangkan. Karena lokasinya di daerah perbukitan, kami harus naik turun untuk bisa mendapatkan stempel. Seru sekali!

Saya berkeliling bersama Song dan banyak pengunjung lainnya. Sepertinya ada tur dari  sekolah juga karena ada banyak siswa yang tampak. Karena ramai, untuk berfoto di beberapa titik populer pun harus antre.

4. Guk-Je-Si-Jang Market

Sebenarnya saya tidak terlalu lapar, tapi tampaknya Song ingin makan siang. Jadilah kami ke Pasar GukJe yang katanya salah satu pasar populer di Korea Selatan. Konon, pasar ini sudah ada sejak tahun 1948.

Saya sempat terkejut saat melihat tarif parkir yang mencapai W2000 per jam atau sekitar Rp22.000. Tapi kata Song, hal ini normal mengingat Pasar Guk-Je ini memang tergolong kawasan dengan biaya hidup mahal. Tak menunggu lama, kami pun makan siang di sini dan membeli sejumlah oleh-oleh.
Selanjutnya, kami menuju Gimhae International Airport dan tiba tepat pukul 15:45 waktu setempat. Saya tak menyangka, tujuan utama ke Gamcheon Cultural Village ternyata bisa berakhir dengan lebih menyenangkan. Saya bisa mengunjungi banyak tempat dalam waktu 12 jam saja.

Tulis komentarmu di sini: