Pengalaman Pertama Menginap di Hostel Bali

ardha
By ardha 03 April 2017

Menginap adalah ritual yang tak akan lepas dari rangkaian aktivitas liburan. Terkadang kita memilih penginapan yang berada tak jauh dari lokasi tempat wisata, berdasarkan fasilitas penunjang, atau sekadar mencari pengalaman baru saat menginap. Hal yang disebut terakhir menjadi alasan saya saat memilih penginapan pada libur tahun baru di Bali. Istimewanya, ini merupakan pengalaman pertama liburan berdua saja dengan adik lelaki saya (tanpa orang tua) dan pengalaman pertama menginap di hostel.

Seminggu sebelum berangkat ke Bali, kami mencari informasi tentang penginapan bujet rendah. Sebagai mahasiswa, hemat adalah kunci. Setelah membandingkan harga beberapa penginapan melalui berbagai aplikasi termasuk Traveloka, kami memutuskan untuk memilih hostel di daerah Seminyak.

Sebenarnya, banyak jenis penginapan dengan harga lebih murah, namun saya coba yakinkan adik saya, “Hostel saja ya, siapa tahu bisa satu kamar sama orang bule, kita bisa latihan bicara dalam bahasa Inggris.”

Gara-gara nama, saya dikira bule

Dengan kebiasaan membeli tiket pesawat di Traveloka secara last-minute (biasanya 3 hari sebelum berangkat), kami berhasil mendapatkan tiket murah dari Yogyakarta ke Bali, hanya Rp1.020.000 untuk berdua di tanggal 31 Desember 2016.

Setelah satu jam setengah perjalanan, tibalah kami di Bali. Dalam perjalanan menuju hostel, saya sempat dihubungi pihak hostel yang menanyakan pukul berapa kami akan check-in.

Setibanya di hostel, nama Bedplus Backpacker tertera jelas di plakat dengan sorotan lampu neon warna putih. Bagian depan hostel dikelilingi tanaman dengan tiga meja bundar dan sejumlah kursi untuk duduk santai memandangi lalu-lalang wisatawan di muka jalan.

Ilustrasi lobi hostel, terlihat lebih kasual dibandingkan hotel biasa. (Sumber: Shutterstock)

Kami masuk, dan langsung berada tepat di depan meja resepsionis. “Mas Ardha Bryan, ya? Saya pikir kamu bule, Mas,” tanya resepsionis. “Iya mas benar,” jawab saya dengan sedikit tersenyum karena dikira seorang bule.

Saya membayar biaya menginap selama dua malam. Benar, saya membayarnya saat tiba di hostel. Saat memesan, saya sempat was-was karena hostel tidak menarik uang pangkal, tapi akhirnya saya meyakinkan diri sendiri dan memesan untuk dua malam.

Sewaktu berbicara dengan resepsionis, terdengar dentuman musik rock di lantai dua. “Mas, di atas agak berisik, kalian nanti sekamar sama bule Inggris”, kata resepsionis. “Oh ya mas,” jawab saya sambil meyakinkan diri untuk berani berbahasa Inggris.

Hostel ini memberi fasilitas sarapan pagi, air mineral, alat masak, dan TV kabel di area lobi. Adanya alat masak ini lumayan berguna karena jika tiba-tiba lapar kita bisa memasak sendiri, atau jika malas tinggal pilih menu makanan yang tersedia di hostel.

Sok akrab dengan tamu lain di kamar

Kami diantar resepsionis ke depan kamar sembari dijelaskan ihwal kamar mandi, sakelar lampu, colokan listrik, dan pintu alternatif yang dibuka ketika larut malam. Akhirnya kami masuk kamar. Tiga lelaki berukuran 1,5 kali saya, tiga botol bir, sampah plastik, dan pakaian yang tersebar di sisi-sisi kamar, menyambut kami. Aduh, tak ada rapi-rapinya kamar ini.  Saya dan Kevin menaruh tas di kasur, lalu mencoba berbincang dengan  ketiga bule.

Ilustrasi kamar di hostel, ranjang bertingkat seperti di asrama. (Sumber: Shutterstock)

Kami bersalaman dan mengenalkan diri. Saya sempat bingung mau membahas tema obrolan apa. Tanya asal sudah, berapa hari di Bali sudah, tanya rencana malam tahun baru juga sudah. Tiba-tiba terbersit untuk membahas sepak bola. “Are you soccer fans? Like Liverpool or others?” saya memberanikan diri bertanya. Sontak mereka menjawab, “No,” sambil menyilangkan kedua tangan, “I am a West Ham fan, The Hammers,” kata salah satu bule yang saya lupa namanya. Liverpool dan West Ham adalah musuh. Duh, rupanya saya salah menyebut Liverpool tadi.

Lalu mereka bertanya balik ke saya tentang tim yang saya dukung. Saya menjawab Inter Milan. Mereka mencoba mengingat salah satu striker Inter Milan. “Icardi?” tanya saya. “Yes, Mauro Icardi,” jawab mereka dengan ekspresi seperti memenangkan undian. Sewaktu kami berbincang, Kevin hanya duduk tersenyum di atas kasur sambil memandangi kami. Mungkin dia lelah. Sempat saya tidak jelas mendengar apa yang dikatakan si bule. Maklum pendengaran saya kurang cakap menerima aksen British. Akhirnya mereka keluar hostel lebih dulu untuk merayakan malam tahun baru. “Happy New Year!” tutup mereka sambil tos dengan saya dan Kevin.

Malam pergantian tahun yang nano-nano di Bali

Setelah salat di kamar, saya dan Kevin keluar dari hostel berniat cari makan malam. Saat melewati lobi, saya sempat melihat ada turis Jepang yang menyapa. Karena sudah terlalu lapar, saya tak bisa banyak basa-basi, bergegas menuju warung makan terdekat. Jauh-jauh ke Bali, ternyata kami makan nasi Padang demi urusan kantong.

Ilustrasi suasana Pantai Kuta saat senja. (Sumber: Shutterstock)

Selanjutnya, kami berjalan kaki untuk menikmati malam pergantian tahun di Pantai Seminyak. Di sini, kami sempat kehujanan dan menyaksikan sebuah “tragedi” kembang api. Saat itu, kembang api yang ditanam di pasir beralih arah saat dinyalakan. Api menyembur ke arah pengunjung yang untungnya hanya menyebabkan luka ringan. Selanjutnya, kami memiliih pulang ke hostel untuk beristirahat.

Sesampainya di kamar, ternyata bule penghuni kamar ini juga belum pulang. Saat kami sudah bersiap tidur, berbaring di atas kasur, mereka masuk ke kamar. Awalnya, saya pikir mereka akan melanjutkan pesta di dalam kamar, ternyata tidak. Yang ada, mereka berusaha berjalan sepelan mungkin agar tak menimbulkan keributan yang bisa mengganggu saya dan Kevin yang dikira sudah tidur.

Pagi pertama di Bali

Kami bangun sekitar jam enam pagi, saat si bule masih tertidur. Sangat disayangkan karena ternyata obrolan kami tadi malam menjadi yang pertama dan terakhir. Ini karena jadwal tidur dan bepergian kami yang tak sama.

Ilustrasi dapur di hostel. (Sumber: Shutterstock)

Memanfaatkan fasilitas dari hostel, kami sarapan di dapur dengan membuat roti bakar dan teh hangat. Selanjutnya, kami memulai petualangan di Bali dengan melakukan wisata kuliner dan jalan-jalan.

Hari itu kami habiskan untuk wisata kuliner dan jalan-jalan bersama saudara yang kebetulan sedang liburan di Bali. Perut kenyang hati senang, kami diantar pulang ke hostel pukul delapan malam.

Tiba-tiba resepsionis malam sebelumnya membisiki saya untuk berbicara bahasa Inggris dengan resepsionis lainnya yang bertugas malam itu. Ia ingin mengerjai temannya, menggunakan saya sebagai alatnya. Katanya, temannya akan berpikir saya turis Thailand karena secara fisik saya mirip orang sana. Saya menanggapinya dengan tertawa lalu lanjut ke kamar, terlalu lelah berdrama.

Tapi selanjutnya setelah mandi, saya memilih bersantai di lobi dan mengobrol sebentar dengan resepsionis yang seharusnya saya kerjain. Obrolan kami meluas, mulai dari film, wisata Bali, sampai gaji pegawai di sini. Tak berapa lama, saya kembali ke kamar untuk beristirahat.

Waktunya check-out

Keesokan hari, tiba saatnya kami untuk check-out. Segala barang kami kemas dengan agak rapi, sembari menjaga situasi agar tidak mengggangu teman bule yang masih tidur. Kami memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Sebenarnya jika ada pikiran jahat pasti banyak barang hilang di hostel, karena tak ada kunci kamar, dan tas–tas juga ditaruh di sembarang tempat.

Modal menginap di hostel adalah saling percaya dan saling menjaga. Saya sebenarnya sempat was-was ketika meninggalkan handphone atau uang di kamar, tapi ternyata semuanya aman. Jika kamu takut kehilangan barang berharga ketika di hostel, kamu bisa memakai fasilitas loker secara gratis yang tentunya disertai kunci atau dititipkan ke resepsionis.

Yakin tak ada barang yang tertinggal, saya dan Kevin turun ke lobi untuk sarapan terlebih dahulu sebelum check-out. Menginap di hostel meninggalkan kesan tersendiri. Merasa menjadi bagian masyarakat internasional, karena bertemu dengan teman-teman dari luar negeri. Saling mempelajari karakter dan budaya, atau bisa dikatakan terjalin komunikasi antar budaya. Melatih rasa percaya dan menghormati orang lain, karena kita sekamar dengan orang yang belum dikenal. Batas privasi lebih “cair” dibanding ketika kita menginap hotel.

Manfaatkan momen bertemu teman-teman baru, suatu saat mungkin kita akan bertemu lagi di lain kesempatan, bahkan bisa menjadi relasi yang saling menguntungkan.Kami melangkah keluar sambil memegang handphone, memantau datangnya jemputan ojek. Kami pulang membawa kesan dan pengalaman.

 

Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !
Tags