Uncategorized

[Part 2] Jelajah Nepal 8 Hari: Budaya dan Keindahan Alamnya Juara!

tommyprayogo
By tommyprayogo 24 November 2016

Artikel ini merupakan kontribusi dari pembaca*

Perjalanan empat hari sebelumnya bisa dibaca di sini.

Hari 5

Jam 6 pagi, kami sudah check-out dari hotel. Hari ini kami akan menuju kota Pokhara dengan menumpang bus khusus turis yang disediakan oleh stasiun kota Kathmandu. Kedua kota ini berjarak kurang lebih 200 km. Untungnya, bus khusus turis ini memiliki fasilitas yang cukup bagus untuk ukuran bus yang memasang tarif hanya USD 7. Bus dilengkapi dengan AC dan Wi-Fi yang tentunya sangat menguntungkan kami.

Bus turis yang kami naiki ke Pokhara. (Foto: Dok. Pribadi)

Bus turis yang kami naiki ke Pokhara. (Foto: Dok. Pribadi)

Menjelang sore, kami tiba di hotel tempat kami menginap selama di Pokhara. Butuh waktu sekitar delapan jam bagi kami untuk mencapai kota Pokhara, itu sudah termasuk dua kali bus berhenti untuk istirahat. Kami segera bersih-bersih diri dan makan siang. Setelahnya, kami berkeliling di sekitar hotel.

Pemandangan sore hari di Danau Phewa. (Foto: Dok. Pribadi)

Pemandangan sore hari di Danau Phewa. (Foto: Dok. Pribadi)

Hari ini tak banyak kegiatan yang kami jadwalkan. Kami hanya mengunjungi Danau Phewa yang berada tak jauh dari hotel. Danau ini menjadi salah satu destinasi favorit para wisatawan yang berkunjung ke Pokhara. Terbukti, ada banyak wisatawan yang melakukan kegiatan di tepi sungai seperti duduk bersantai dan memancing. Mengunjungi Pokhara menjelang senja ternyata keputusan yang tepat. Kami bisa menyaksikan salah satu pemandangan matahari terbaik di sini.

Hari 6

Pagi pertama di Pokhara, kami sangat bersemangat. Agenda pertama kami hari ini adalah mendaki Bukit Sarangkot untuk menyaksikan matahari terbit dengan pemandangan Puncak Annapurna. Puncak Annapurna merupakan basecamp pertama para pendaki Puncak Everest, Pegunungan Himalaya.

Puncak Everest terlihat dari kejauhan. (Foto: Dok. Pribadi)

Puncak Everest terlihat dari kejauhan. (Foto: Dok. Pribadi)

Sekitar jam 5 pagi, kami sudah tiba di Bukit Sarangkot setelah menempuh perjalanan selama satu jam dari hotel. Ternyata di lokasi sudah ada banyak wisatawan yang ingin menyaksikan pemandangan matahari terbit. Sayangnya, keinginan kami ini tidak berjalan lancar. Karena cuaca yang tak mendukung, kami tak bisa menyaksikan matahari terbit. Kami pun kembali ke hotel dengan perasaan kecewa.

Selepas makan siang di hotel, kami dan rombongan turis dari Taiwan dijemput panitia tur untuk melakukan paragliding di Bukit Sarangkot. Setelah menempuh perjalanan satu jam dengan mobil dan 15 menit jalan kaki, kami tiba di di puncak Bukit Sarangkot.

Phewa Lakeside, tempat pendaratan paragliding. (Foto: Dok. Pribadi)

Phewa Lakeside, tempat pendaratan paragliding. (Foto: Dok. Pribadi)

Tak menunggu lama, kami langsung diberi penjelasan tentang prosedur keamanan saat melakukan kegiatan ekstrem ini. Selanjutnya, kami dipasangkan dengan pilot tandem masing-masing dan siap melakukan paragliding dari ketinggian 1.400 meter di atas permukaan air laut. Setelah ‘terbang’ selama kurang lebih setengah jam di udara, kami mendarat di tepian Danau Phewa.

Malam harinya, kami gunakan untuk jalan-jalan santai saja. Pokhara sangat berbeda dengan Kathmandu, atau bahkan Jakarta. Kota ini sangat jauh dari keramaian. Tak banyak kendaraan di jalanan atau aktivitas warga yang terlihat. Jika pun ada, kebanyakan dari mereka pastilah sedang menikmati makan malam atau sekadar minum di kafe dan bar dengan diiringi musik khas Nepal.

Hari 7

Masih penasaran dengan pemandangan matahari terbit di puncak Annapurna, kami pun memutuskan untuk kembali lagi ke sana. Kali ini, kami melihatnya dari Stupa, sebuah menara di puncak Bukit Ananda. Sepertinya keberuntungan masih belum berpihak pada kami karena cuaca tetap tak mendukung untuk menyaksikan keindahan matahari terbit di sini.

Kami menyerah dan akhirnya hanya berkunjung ke World Peace Pagoda yang terletak di lokasi yang sama. Pagoda ini merupakan sumbangan dari para biksu asal Jepang yang tergabung dalam organisasi Japanese Nipponzan Myohoji. Tak mengherankan jika terdapat banyak unsur Jepang di sini, seperti kaligrafi dengan huruf kanji Jepang.

Hujan turun cukup deras di siang hari. Kami pun turun ke dataran yang lebih rendah demi alasan keamanan. Kami mengunjungi International Mountain Museum. Seperti namanya, museum ini menyimpan berbagai koleksi informasi mengenai dunia pendakian gunung. Di dalamnya, ada teater yang memutar video dokumenter para pendaki Pegunungan Himalaya.

Pemandangan Danau Begnas berlatar perbukitan. (Foto: Dok. Pribadi)

Pemandangan Danau Begnas berlatar perbukitan. (Foto: Dok. Pribadi)

Sore harinya, kami mengunjungi danau lain di Pokhara, Danau Begnas. Dibandingkan Danau Phewa, Danau Begnas relatif lebih sepi. Barangkali, hal ini dikarenakan lokasi dari Danau Begnas yang jauh dari hotel tempat para turis biasa menginap dan lebih dekat dengan pemukiman warga. Hal ini membuat Danau Begnas lebih banyak dikunjungi oleh warga setempat yang melakukan berbagai kegiatan seperti menaiki perahu, memancing, berjualan makanan, atau hanya sekadar berkumpul untuk bernyanyi.

Dari Danau Begnas, kami berlanjut ke pasar tradisional di Pokhara untuk mencari oleh-oleh. Di Pokhara dan Nepal pada umumnya, para penduduk sangat kreatif dalam menciptakan kerajinan tangan. Hasil kerajinan yang banyak dipilih wisatawan sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang di antaranya adalah pashmina dan kerajinan tangan dari batu atau kayu.

Hari 8

Ini hari kepulangan kami ke Jakarta. Kami sempatkan untuk berkunjung ke tempat-tempat menarik lain di Pokhara. Untuk menghemat waktu, kami mengunjungi tiga tempat yang lokasinya cukup berdekatan. Tiga tempat tersebut adalah Bat Cave, Devi’s Fall, dan Seti Gandaki River.

Setelahnya, kami check-out dari hotel dan bersiap melanjutkan perjalanan ke Kathmandu. Kami kembali menggunakan bus khusus turis, sama seperti saat kami menempuh perjalanan ke Pokhara sebelumnya.

Momo, makanan khas yang wajib dicoba semua traveler yang datang ke Nepal. (Foto: Dok. Pribadi)

Momo, makanan khas yang wajib dicoba semua traveler yang datang ke Nepal. (Foto: Dok. Pribadi)

Hari ini juga untuk terakhir kalinya di perjalanan ini, kami menikmati kuliner khas Nepal yaitu MoMo. MoMo adalah sejenis dumpling yang berisi daging ayam, kerbau atau sayuran. Daging sapi memang tak akan kamu temukan di Nepal, hal ini karena sapi dianggap sebagai hewan suci, tunggangan para dewa ke surga. Untuk minuman, kami memilih teh hangat. Di sini, teh tidak pernah disajikan dalam keadaan dingin karena konon bisa merusak citarasa teh yang sebenarnya.

Bagi saya, Nepal tak hanya sebuah destinasi liburan yang unik, tapi juga penuh makna. Saya banyak belajar dari negara ini tentang kehidupan penduduknya yang sederhana, ramah, hidup berdampingan, terkesan tenang, juga bahagia. Mereka cepat bangkit setelah mengalami gempa bumi tahun lalu. Bahkan saya berencana untuk pergi ke Nepal lagi dua tahun mendatang karena masih banyak tempat yang tak sempat saya kunjungi.

Tips mengunjungi Nepal

  • Jangan mudah percaya pada tour guide karena mereka bisa mengenakan tarif yang sangat tinggi pada turis asing yang baru pertama kali ke Nepal.
  • Waspada pada para pedagang dan pengemis yang agresif pada turis.
  • Jika tidak begitu memerlukan internet, tidak perlu membeli SIM card dan paket data, andalkan saja Wi-Fi kafe dan hotel karena tarif internet di Nepal sangat mahal.
  • Disarankan untuk tidak terlalu sering menggunakan USD karena bisa merusak rencana budgeting sebelumnya. Di Nepal tidak harus menggunakan NPR (mata uang setempat) untuk bertransaksi, tapi bisa menggunakan USD .

Rincian pengeluaran

Tiket pesawat pulang – pergi

Malindo Air: Rp5.157.288

Hotel

Zen Bed and Breakfast, Kathmandu : 4 malam = USD 82 (USD 28 per orang)

Hotel Diplomat, Pokhara : 3 malam = USD 36 (USD 12 per orang)

Makanan dan minuman per hari

Makan siang/ malam : NPR 200 – 400

Sarapan : NPR 150 – 250

Snacks : NPR 50 – 100

Minuman : NPR 50 – 100

Transportasi selama di Nepal

Sopir per hari  (tergantung jarak) : NPR 1.000 – 2.000 NPR

Taksi  dari bandara ke Thamel Road : NPR 400

Bus Kathmandu – Pokhara PP : USD 7

Harga tiket masuk tempat wisata

Kuil Boudhanath (Kathmandu) : NPR 2.600

Kuil Pashupatinath (Kathmandu) : NPR 1.000

Patan Durbar Square (Kathmandu) : NPR 750

Kuil Swayambunath (Kathmandu) : NPR 200

Kuil Changu Narayan (Bhaktapur) : NPR 300

Bhaktapur Durbar Square (Bhaktapur) : NPR 1500

Danau Phewa (Pokhara) : Gratis

Bukit Sarangkot (Pokhara) : NPR 150

World Peace Pagoda (Pokhara) : Gratis

International Mountain Museum (Pokhara) : NPR 400

Danau Begnas (Pokhara) : Gratis

Seti Gandaki River (Pokhara) : NPR 30

Devi’s Fall (Pokhara) : NPR 30

Bat Cave (Pokhara) : NPR 100

Lain-lain

Nepal Bungee Jumping (The Last Resort)

Transport+Lunch : USD 102

Dokumentasi : USD 12

Nepal Paragliding (Team 5 Paragliding)

Transportasi & dokumentasi : USD 120

Ncell SIM Card (1GB internet) : NPR 2.600

Visa on arrival : 25 USD

(Catatan: Nilai tukar NPR ke rupiah saat itu adalah: Rp122)

Artikel ini ditulis berdasarkan cerita perjalanan Tommy Prayogo bersama dua orang temannya ke Nepal selama delapan hari. Tommy bisa dihubungi di Facebook dan Instagram pribadinya.

Temukan hotel terbaik di Nepal dengan klik di sini.

Nikmati rangkuman perjalanan Tommy dan kawan-kawan dalam video di bawah ini:

Summary
[Part 2] Jelajah Nepal 8 Hari: Budaya dan Keindahan Alamnya Juara!
Judul Artikel
[Part 2] Jelajah Nepal 8 Hari: Budaya dan Keindahan Alamnya Juara!
Description
Hari 5, menuju kota Pokhara. Hari 6, Bukit Sarangkot untuk menyaksikan matahari terbit dengan pemandangan Puncak Annapurna,basecamp pertama para pendaki Puncak Everest, Pegunungan Himalaya. Hari 7, mengunjungi World Peace Pagoda, International Mountain Museum, dan Danau Begnas Hari 8, Bat Cave, Devi’s Fall, dan Seti Gandaki River dan kemudian kembali ke kota Kathmandu
Author
Publisher
Traveloka
Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !