Uncategorized

Panduan Wisata Jepang (Tokyo-Kyoto-Osaka) dalam 7 Hari

Busyra Oryza
By Busyra Oryza 02 August 2016

Bisa saya simpulkan, Jepang menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di antara wisatawan Indonesia di tahun 2016. Hal ini saya amati dari banyaknya kerabat dan teman saya yang menjadikan Jepang sebagai tujuan berlibur, termasuk saya. Bahkan daya tarik negeri sakura juga menjadi inspirasi pembuatan film Winter in Tokyo (2016) yang diadaptasi dari novel karya Ilana Tan. 

Kepopuleran Jepang bisa dipicu banyak hal, di antaranya kemudahan visa (bebas visa untuk e-paspor) dan tingginya minat wisatawan untuk menjelajah destinasi yang lebih jauh. 

Jika kamu salah satu orang yang berencana berlibur ke Jepang, simak panduan serta catatan perjalanan saya di bawah ini sebagai referensi liburan kamu.

Mau liburan hemat di akhir tahun? Buka Festival Jalan-Jalan dan manfaatkan semua promo liburan di dalam dan luar negeri. Promo hanya sampai 27 Nov 2016.

Hari 1

Hari yang dinanti pun tiba, saya terbang menggunakan maskapai LCC (low cost carrier) AirAsia dengan total perjalanan sekitar 14 jam termasuk transit di bandara KLIA2, Kuala Lumpur selama 5 jam. Walaupun melelahkan, saya memilih terbang dengan LCC karena relatif lebih hemat dan memungkinkan saya untuk jalan-jalan singkat di sekitar bandara KLIA2. 

Saya tiba di Bandara Internasional Haneda (HND) pukul 22:30 waktu setempat. Setelah selesai pemeriksaan imigrasi, saya langsung menuju stasiun kereta untuk naik kereta terakhir yang menuju pusat kota Tokyo di Shibuya.

Tips menggunakan transportasi umum:

  • Gunakan kereta untuk menuju pusat kota Tokyo. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dengan tarif seharga 580 yen.
  • Jangan lupa membeli kartu PASMO atau SUICA untuk mempermudah pembayaran tarif kereta dan bus selama di Jepang. Harga kartu sebesar 3.000 yen (mendapat saldo 2.500 yen) dan tersedia di pusat informasi wisatawan di bandara
Kartu PASMO bisa digunakan di hampir semua jaringan kereta dan bus di Jepang.

Kartu PASMO bisa digunakan di hampir semua jaringan kereta dan bus di Jepang. (Sumber: Busyra Oryza)

Selama di Tokyo, saya menginap di Hotel Fukudaya yang berjarak 15 menit jalan kaki dari Stasiun Shibuya. Saya memilih menginap di hotel ini karena kawasan Shibuya merupakan lokasi paling strategis untuk menjangkau beragam tempat wisata di Tokyo.

Hari 2

Usai sarapan saya langsung bergegas untuk menjelajah beberapa atraksi menarik di kawasan Shibuya, Shinjuku, dan Akihabara.  

Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah Shibuya. Di sini terdapat persimpangan paling sibuk dan populer di dunia, di mana ratusan orang menyeberang tiap beberapa menit. Saking populernya, tempat ini pernah menjadi lokasi syuting beberapa film Hollywood seperti Fast and Furious: Tokyo Drift, Lost in Translation, dan Resident Evil: Afterlife.  

Suasana persimpangan Shibuya saat lampu merah.

Suasana persimpangan Shibuya saat lampu merah. (Sumber: Busyra Oryza)

Tidak hanya itu, tidak jauh dari Stasiun Shibuya terdapat monumen Hachiko. Hachiko adalah anjing yang setia menunggu majikannya bahkan selama bertahun-tahun setelah majikannya wafat. Kisah Hachiko diabadikan dalam bentuk patung sebagai simbol kesetiaan yang tulus, salah satu nilai yang dipegang teguh oleh orang Jepang. Sekarang, patung ini menjadi daya tarik para turis yang kagum akan kisah Hachiko.

Patung Hachiko menjadi daya tarik turis di Shibuya.

Patung Hachiko menjadi daya tarik turis di Shibuya. (Sumber: Busyra Oryza)

Dari Shibuya, saya melanjutkan perjalanan saya ke Tokyo Metropolitan Government Building. Letak gedung ini berada di kawasan Shinjuku, dekat dengan Stasiun Tochomae. Gedung ini memiliki ruang observatorium yang berada di lantai 45 dan terbuka untuk umum alias gratis. Di sini kamu bisa menyaksikan indahnya pemandangan kota Tokyo dari ketinggian. Jika cuaca cerah, kamu bisa menyaksikan Gunung Fuji dari sini.

Pemandangan dari lantai 45, terlihat Tokyo Tower di kejauhan.

Pemandangan dari lantai 45, terlihat Tokyo Tower di kejauhan. (Sumber: Busyra Oryza)

Setelah puas melihat keindahan kota Tokyo, destinasi selanjutnya adalah Meiji Jingu. Meiji Jingu merupakan kompleks kuil yang dikelilingi hutan seluas 70 hektar. Menyusuri jalan di kompleks kuil membuat saya takjub akan tata kota ini yang masih memiliki hutan di tengah-tengah padatnya gedung.

Jalan santai sore hari di Meiji Jingu.

Jalan santai sore hari di Meiji Jingu.  (Sumber: Busyra Oryza)

Tak terasa malam pun tiba. Saya melanjutkan perjalanan saya dengan menjelajah kawasan Shinjuku dan Akihabara. Di malam hari, kawasan ini justru akan lebih hidup ketimbang di siang hari. Sepanjang jalan kamu akan melihat kelap-kelip lampu dan banner berukuran besar yang menghiasi tiap gedung.

Suasana Shinjuku saat malam hari. Tak heran Tokyo dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur.

Suasana Shinjuku saat malam hari. Tak heran Tokyo dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur. (Sumber: Busyra Oryza)

 

Tips: Jaringan kereta di Tokyo merupakan jaringan kereta paling rumit di dunia. Namun, kamu tidak perlu khawatir, dengan mengandalkan smartphone dan jaringan internet, kamu bisa dengan mudah mencari informasi tentang suatu atraksi atau tempat wisata lewat Google Maps.

Hari 3

Khusus hari ketiga saya alokasikan sepanjang hari untuk mengunjungi Danau Kawaguchiko. Kawasan ini terkenal sebagai tempat favorit untuk mengamati Gunung Fuji. Di Kawaguchiko ada beberapa spot yang menjadi tempat populer untuk mengamati Gunung Fuji, salah satunya adalah sisi utara Danau Kawaguchiko.

 

Cuaca kurang bersahabat saat saya tiba di Kawaguchiko.

Cuaca kurang bersahabat saat saya tiba di Kawaguchiko. (Sumber: Busyra Oryza)

Untuk mencapai tempat ini, butuh waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dengan bus. Awal perjalanan dimulai dari pusat perbelanjaan Shibuya Mark City 5F dengan tarif sebesar 1.800 yen.

Sayangnya, saya gagal menikmati pemandangan Gunung Fuji dikarenakan faktor cuaca yang tidak mendukung.

Tips: Agar kamu bisa menikmati indahnya Gunung Fuji, disarankan untuk bermalam minimal satu malam. Dengan bermalam, kesempatan menikmati view Gunung Fuji akan lebih besar keesokan harinya.

Hari 4

Hari keempat saya fokuskan untuk berbelanja oleh-oleh dan jalan-jalan santai di taman.

Lokasi pertama yang saya tuju adalah Diver City Mall yang terletak di kawasan Odaiba. Untuk menuju ke sini bisa menggunakan kereta dengan turun di Stasiun Tokyo Teleport. Selain berbelanja barang-barang branded, kamu bisa berfoto dengan patung Gundam setinggi 18 meter!

Patung Gundam yang menjadi daya tarik mal.

Patung Gundam yang menjadi daya tarik mal. (Sumber: Shutterstock)

Usai berbelanja di mal, saya kembali memuaskan hasrat belanja saya di Ameya-yokocho yang terkenal sebagai street market ala Jepang. Suasana di sini kurang lebih mirip pasar Chatuchak di Bangkok, banyak barang murah meriah yang bisa kamu beli.  

Banyak street food yang bisa dicoba di Ameya-yokocho.

Banyak street food yang bisa dicoba di Ameya-yokocho. (Sumber: Busyra Oryza)

Puas berbelanja, saya menikmati sore hari dengan berjalan-jalan santai di Ueno Park yang berlokasi tidak jauh dari Ameya-yokocho. Sebagai taman kota, Ueno Park menawarkan banyak atraksi menarik seperti museum, kuil, dan kebun binatang.

Banyak orang ke Ueno Park saat sore hari, termasuk para kaum pekerja di Jepang.

Banyak orang ke Ueno Park saat sore hari, termasuk para kaum pekerja di Jepang. (Sumber: Busyra Oryza)

Pukul 20:00 saya kembali ke Shibuya lalu bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Kyoto menggunakan bus malam. Tiket bus bisa dipesan secara online dengan harga mulai dari 4.000 yen. Lokasi keberangkatan bus berada di beberapa stasiun besar di Tokyo, salah satunya Stasiun Osaki.

Tips: Ada banyak cara menuju Kyoto dari Tokyo. Kamu bisa menggunakan bus atau kereta cepat Shinkansen. Menurut saya, cara termurah untuk ke Kyoto adalah dengan bus malam. Selain itu, kamu juga menghemat biaya akomodasi hotel karena bisa tidur dalam bus.

Hari 5

Perjalanan ke Kyoto dengan bus memakan waktu sekitar 8 jam. Saya tiba di Stasiun Kyoto pukul 07:00 waktu setempat.

Bus Willer Express yang saya gunakan untuk ke Kyoto.

Bus Willer Express yang saya gunakan untuk ke Kyoto. (Sumber: Busyra Oryza)

Karena masih pagi, saya belum bisa langsung check-in di hotel. Saya memutuskan untuk menyimpan tas dan koper saya di loker Stasiun Kyoto agar memudahkan saya untuk menjelajah beberapa atraksi menarik di Kyoto.

Tips: Menyimpan tas di loker sangat berguna untuk efisiensi waktu terutama jika kamu belum bisa check-in di hotel, sehingga tidak mengganggu rencana perjalanan kamu. Loker tersedia di hampir setiap stasiun di Jepang. Loker tersedia dalam berbagai ukuran mulai dari yang kecil (200 yen) hingga yang besar (600 yen).

Destinasi pertama saya adalah kuil Fushimi Inari. Destinasi ini paling mudah dijangkau karena hanya butuh 2 kali pemberhentian dari Stasiun Kyoto. Kuil ini sangat ikonis bagi pencinta fotografi di mana ribuan gerbang merah menyala menjadi daya tarik dalam frame foto. Jalan-jalan ke Kyoto belum lengkap jika kamu tidak mengunjungi kuil ini.

Lihat tulisan kanji yang terpahat di pilar-pilar Fushimi Inari-taisha? Itu adalah nama-nama perusahaan yang memberikan sumbangan untuk kuil.

Lihat tulisan kanji yang terpahat di pilar-pilar Fushimi Inari-taisha? Itu adalah nama-nama perusahaan yang memberikan sumbangan untuk kuil. (Sumber: Busyra Oryza)

Dari Fushimi Inari, saya melanjutkan perjalanan ke Nijo Castle. Kastil ini dibangun pada tahun 1603 sebagai istana kekaisaran shogun yang merupakan penguasa negeri saat era feodalisme masih berjaya. Pada tahun 1994, UNESCO menetapkan kastil ini sebagai warisan budaya dunia.

Kastil Nijo menjadi daya atraksi bagi turis dan juga para pelajar.

Kastil Nijo menjadi daya atraksi bagi turis dan juga para pelajar.  (Sumber: Busyra Oryza)

Kastil dirawat dengan baik sehingga kamu bisa merasakan seperti apa kehidupan para shogun pada masanya. Di area kastil juga terdapat pemandu lokal yang bisa memberikan informasi lebih jelas tentang fungsi-fungsi tiap ruangan kastil.

Usai belajar sejarah, saya melanjutkan perjalanan ke Arashiyama Bamboo Grove. Lokasinya cukup jauh dari pusat Kyoto, sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan bus. Lebatnya hutan bambu membuat pencahayaan agak redup sehingga memberikan efek unik di foto. Tak heran, lokasi ini sangat “Instagram-genic”!

Arashiyama Bamboo Grove menjadi tempat populer untuk berfoto.

Arashiyama Bamboo Grove menjadi tempat populer untuk berfoto. (Sumber: Busyra Oryza)

Di Arashiyama juga terdapat banyak penarik rickshaw yang siap memberikan tur dengan tarif mulai dari 3.000 yen. Interesting side note: walaupun judul pekerjaan mereka adalah penarik rickshaw, sepertinya penghasilan mereka cukup baik karena saya melihat banyak di antara mereka memiliki iPhone 6!

Penarik rickshaw di Arashiyama.

Penarik rickshaw di Arashiyama.  (Sumber: Busyra Oryza)

Pukul 17:00 saya memutuskan untuk kembali ke pusat Kyoto untuk check-in di Hotel APA Villa Hotel Kyoto-Ekimae. Letak hotel sangat strategis, hanya 5 menit dari Stasiun Kyoto.

Usai check-in dan istirahat sebentar, saya melanjutkan perjalanan ke distrik Gion untuk hunting foto geisha. Jika beruntung, kamu bisa berpapasan dengan geisha yang biasanya aktif menjelang malam hari.

Geisha bergegas ke tempat ia bekerja.

Geisha bergegas ke tempat ia bekerja. (Sumber: Busyra Oryza)

Tips: Ada perbedaan signifikan antara Tokyo dan Kyoto. Sebagian besar destinasi wisata di Kyoto lebih mudah dijangkau dengan bus ketimbang kereta. Bus dalam kota menerapkan tarif  rata sebesar 220/110 yen untuk dewasa/anak. Untuk berhemat, kamu bisa memanfaatkan tiket all-day pass untuk bus sebesar 500/250 yen untuk dewasa/anak yang bisa dibeli di Kyoto Bus Information Center dekat dengan Stasiun Kyoto.

Hari 6

Hari kedua di Kyoto, saya melanjutkan eksplorasi ke dua tempat populer lainnya yakni, Kiyomizu-dera dan Golden Temple.

Kiyomizu-dera dapat dijangkau dengan menggunakan bus dari Stasiun Kyoto dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Kiyomizu-dera merupakan kuil Buddha yang dibangun sejak tahun 778. Di sini terdapat Otowa Waterfall yang terletak pada bagian dasar kuil yang mengeluarkan tiga  sumber mata air. Setiap mata air dipercaya memiliki kebaikan bagi peminumnya, yang mana mereka akan mendapatkan umur panjang, kehidupan yang sukses, dan kebahagiaan dalam hubungan percintaan. Namun, jika meminum semuanya kamu akan dianggap serakah.

Kiyomizu-dera akan lebih cantik di musim cherry blossom.

Kiyomizu-dera akan lebih cantik di musim cherry blossom. (Sumber: Busyra Oryza)

 

Untuk meminum air dari Otowa Waterfall, kamu harus ikut antrean yang panjang.

Untuk meminum air dari Otowa Waterfall, kamu harus ikut antrean yang panjang. (Sumber: Busyra Oryza)

Kuil selanjutnya yang saya kunjungi adalah Kinkaku-ji atau The Golden Pavilion. Sesuai dengan namanya, kuil ini dilapisi cat berwarna emas yang membuat strukturnya terasa megah. Untuk menciptakan suasana zen, kuil ini dibangun di tengah-tengah kolam. Saking tenangnya kolam ini, kamu bahkan bisa melihat pantulan kuil di atas air.

Cuaca yang cerah semakin mempercantik Golden Temple dalam foto.

Cuaca yang cerah semakin mempercantik Golden Temple dalam foto. (Sumber: Busyra Oryza)

Kinkaku-ji menjadi destinasi terakhir yang saya kunjungi di Kyoto karena esok hari saya akan bertolak ke Osaka.

Untuk ke Osaka, saya memilih kereta cepat Shinkansen sebagai moda transportasi saya. Ada dua hal yang memotivasi saya, yaitu:

  • Pertama, menaiki Shinkansen merupakan salah satu bucket list saya yang notabene salah satu kereta tercepat di dunia.
  • Kedua, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, harga tiket Shinkansen relatif lebih murah dibandingkan rute Tokyo – Kyoto. Satu tiketnya dikenakan tarif hanya 1,420 yen untuk gerbong unreserved seat.

Tips: Jika kamu ingin menghemat bujet, pilih tiket Shinkansen dengan gerbong unreserved seat. Artinya, pada gerbong ini berlaku aturan “siapa yang cepat dia yang dapat” tempat duduk. Harga unreserved seat 30-60% lebih murah dibanding reserved seat.

Hari 7

Usai check-out dari hotel, saya langsung menuju Stasiun Kyoto untuk bertolak ke Osaka menggunakan Shinkansen. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk perjalanan dari Kyoto – Osaka yang berjarak sekitar 40 km.

Bersiap menaiki Shinkansen menuju Osaka!

Bersiap menaiki Shinkansen menuju Osaka! (Sumber: Busyra Oryza)

 

Snapchat yang saya ambil saat naik Shinkansen.

Snapchat yang saya ambil saat naik Shinkansen. (Sumber: Busyra Oryza)

Tiba di Stasiun Shin-Osaka, saya langsung menyimpan tas dan koper saya ke dalam loker untuk memudahkan saya menjelajah Osaka di hari terakhir ini.

Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah Minami-Temma Park yang terletak dekat dengan Stasiun Temmabashi. Jika kamu ke sini pada bulan April yang merupakan musim cherry blossom, kamu bisa menikmati indahnya bunga sakura di sepanjang pinggir sungai.

Sungai yang membelah Osaka.

Sungai yang membelah Osaka. (Sumber: Busyra Oryza)

Sebagai penutup perjalanan, Dotonbori menjadi destinasi terakhir dalam perjalanan saya. Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan di sini, di antaranya belanja, menaiki perahu wisata, atau mencoba jajanan street food yang tersedia di sepanjang jalan.

Terdapat kapal wisata dengan pemandu di Dotonbori.

Terdapat kapal wisata dengan pemandu di Dotonbori. (Sumber: Busyra Oryza)

Tips: Waktu terbaik untuk mengunjungi Dotonbori adalah saat malam hari. Suasana malam akan dimeriahkan dengan terangnya lampu dan banner dari tiap toko yang ada di sini.

Pukul 20:00 saya langsung menuju Stasiun Shin-Osaka untuk melanjutkan perjalanan ke Bandara Internasional Osaka (KIX) dengan kereta cepat Haruka.

Pengeluaran

Tiket pesawat:

  1. Pergi: AirAsia dari Jakarta (CGK) transit di Kuala Lumpur, tiba di Tokyo (HND)
  2. Pulang: AirAsia dari Osaka (KIX) transit di Bangkok, tiba di Jakarta (CGK)

Total tiket pulang pergi Rp4.512.000. Agar pembayaran terasa lebih ringan, saya menggunakan fasilitas cicilan 0% Traveloka.

Hotel:

  1. Tokyo – Hotel Fukudaya 2 malam Rp2.057.000
  2. Kyoto – Hotel APA Villa Hotel Kyoto-Ekimae 2 malam Rp1.864.000

Makan dan minum:

Dalam sehari saya mengalokasikan sekitar 1.500 yen* (Rp187.500) untuk makan dan minum.

Total untuk 7 hari sebesar 10.500 yen* (Rp1.312.500)

Transportasi:

  • Rata-rata dalam sehari saya bisa menghabiskan 1.000-2.000 yen* (Rp125.000-250.000) untuk kereta dan bus dalam kota.
    Total untuk 7 hari sebesar 7.000 yen* (Rp875.000)
  • Bus Shibuya – Kawaguchiko PP: 3.600 yen* (Rp450.000)
  • Bus antar kota Tokyo – Kyoto: 4.800 yen* (Rp600.000)
  • Shinkansen dengan rute Kyoto – Osaka sebesar 1.420 yen* (Rp177.500)
  • Kereta Haruka rute Shin-Osaka – Bandara Internasional Osaka (KIX): 2.850 yen* (Rp356.250)

Tempat wisata:

  • Meiji Jingu: 500 yen* (Rp62.500)
  • Kinkaku-ji: 400 yen* (Rp50.000)
  • Kiyomizu-dera: 400 yen* (Rp50.000)
  • Nijo Castle: 600 yen* (Rp75.000)

Harga yang dicantumkan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada berbagai kondisi. Kamu bisa lebih berhemat dengan memilih akomodasi yang paling cocok dengan gaya travelling kamu.

*nilai tukar IDR ke JPY pada tanggal 15 Mei 2016: Rp125

Catatan: Seluruh perjalanan dilakukan pada 14-21 Mei 2016 oleh Busyra Oryza

 

Summary
Panduan Wisata Jepang (Tokyo-Kyoto-Osaka) dalam 7 Hari
Judul Artikel
Panduan Wisata Jepang (Tokyo-Kyoto-Osaka) dalam 7 Hari
Description
Hari 1: Gunakan kereta untuk menuju pusat kota Tokyo. Jangan lupa membeli kartu PASMO atau SUICA untuk mempermudah pembayaran tarif kereta dan bus selama di Jepang. Hari 2: Kunjungi Shibuya, Shinjuku, dan Akihabara.   Hari 3: Alokasikan sepanjang hari untuk mengunjungi Danau Kawaguchiko. Hari 4: Fokuskan untuk berbelanja oleh-oleh dan jalan-jalan santai di taman. kemudian brangkat ke Kyoto Ccara termurah untuk ke Kyoto adalah dengan bus malam. Hari 5: Kunjungi Fushimi Inari, Nijo Castle, Arashiyama Bamboo Grove, dan distrik Gion Hari 6: Kunjungi Kiyomizu-dera dan Golden Temple. kemudian ke Osaka menggunakan kereta Shinkansen. Hari 7: Kunjungi Minami-Temma Park dan Dotonbori.
Author
Publisher
Traveloka
Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !