New Zealand: Negeri Para Hobbit yang Pesonanya Tak Terbantahkan

Agus Saputra
By Agus Saputra 28 April 2017

Jika mendengar kata New Zealand apa yang terbersit di pikiran kalian? Tentunya potongan adegan di dalam rangkaian film Lord of the Rings dan The Hobbit akan tergambar jelas, mulai dari padang ilalang hingga pegunungan. Dan memang, salah satu alasan kuat yang membuat saya ingin menginjakkan kaki di negara ini adalah berbagai pemandangan menakjubkan yang sering ditampilkan di dalam film-film tersebut.

Singkat cerita, saya dan tiga orang teman pun memegang tiket PP Kuala Lumpur – Auckland. Mungkin kamu bertanya-tanya, “Kok dari Kuala Lumpur?” Ya, kami sengaja mengambil rute ini karena kami tinggal di Batam dan hanya butuh waktu dua jam untuk menyeberang ke daratan Malaysia.

Pesawat yang kami tumpangi lepas landas dari Kuala Lumpur International Airport tepat jam 23:55 waktu setempat. Kami harus transit di Gold Coast, Australia, selama satu jam, untuk selanjutnya kembali terbang ke Auckland dalam waktu tujuh jam.

Tiba di Auckland, perjalanan kami belum berakhir. Kami masih harus menumpang pesawat dengan tujuan Christchurch di South Island. Tiba di bandara pukul 21:30 waktu setempat, ternyata bus yang kami pesan secara online sudah menunggu kedatangan kami. Suhu udara saat itu menunjukkan angka 10º Celcius, pantas saja kami menggigil saat keluar dari terminal bandara dan berjalan menuju bus. Kami pun menembus malam dan melaju ke penginapan.

Chrischurch

Chrischurch (sumber: dok pribadi)

Petualangan di Negeri Hobbit pun dimulai

Keesokan harinya, kami bangun pagi-pagi sekali. Di luar penginapan, udara terasa dingin menusuk tulang. Sampai kemudian matahari muncul perlahan dan udara terasa lebih hangat. Kami berjalan menuju Apex Car Rental untuk mengambil mobil yang sebelumnya sudah kami pesan secara online.

Mount Cook yang berada di kawasan Aoraki National Park adalah tujuan pertama kami. Sepanjang jalan, kami bisa melihat kumpulan rumah penduduk yang tampak seperti di negeri dongeng. Rumah-rumah ini tertata rapi, bersih, dan masing-masing memiliki halaman yang luas.

Beberapa jam selanjutnya, kami berhenti di sebuah kafe tepi jalan. Kawasan tempat kami beristirahat sebentar ini adalah Rakaia Canterbury. Kota kecil ini berada di tepi Sungai Rakaia yang terkenal sebagai salah satu sungai dengan ikan salmonnya yang lezat. Sayangnya, pagi itu kami hanya menikmati segelas cokelat panas sebagai sarapan.

Setelah puas menikmati cokelat panas, kami melanjutkan perjalanan ke Mount Cook. Ingin rasanya berhenti sebentar setiap kali mobil yang kami tumpangi melalui padang luas nan hijau yang tampak mendamaikan dengan gerombolan domba yang sedang merumput.

 

Perjalanan panjang menuju Mount Cook

Danau Takepo

Danau Takepo

Pukul 13:00, kami tiba di Danau Tekapo yang terletak di Distrik MacKenzie. Air danau terlihat sangat jernih kebiruan dengan pemandangan sekitarnya yang tak berhenti membuat kami berdecak kagum. Berada di tepi danau, kami luar biasa kedinginan. Angin bertiup kencang, kami harus memakai sarung tangan dan jaket tebal. Usai menikmati keindahan danau, kami mencari kafe terdekat untuk mengisi perut.

Kami tak bisa beristirahat terlalu lama. Perjalanan menuju Mount Cook pun berlanjut. Sebelumnya, kami telah memesan penginapan di kaki gunung agar bisa menikmati keindahan kawasan ini dengan maksimal. Menjelang senja, akhirnya kami tiba di penginapan. Malam pun kami habiskan dengan bersantai di dalam kamar guna meluruskan tulang karena lelah menempuh perjalanan seharian.

Menikmati keindahan Mount Cook dari dekat

Mount Cook

Mount Cook (sumber: dok pribadi)

Saat pagi, udara dingin tak juga beranjak. Saat berdiri di balkon kamar, kami bisa merasakan udara yang luar biasa dingin dan membuat kami harus menutup pintu. Sebelum bersiap menjelajah Mount Cook, kami sarapan dengan bekal mi instan yang kami bawa.

Mount Cook dari dekat

Mount Cook dari dekat (sumber : dok pribadi)

Dengan penuh semangat, kami bersiap melakukan pendakian di Mount Cook. Terinspirasi dari Sir Edmund Hillary, kami sudah membulatkan tekad. Sir Edmund Hillary ini merupakan pendaki asal New Zealand sekaligus menjadi orang pertama yang menaklukkan Puncak Everest. Berada di tanah kelahirannya, kami terinspirasi untuk mengikuti sedikit jejaknya.

Namun, mendaki gunung memang tak mudah. Pada akhirnya kami harus menyerah dengan udara dingin dan kelelahan setelah mendaki lewat jalur Hooker Valley. Padahal, jalur ini tergolong jalur mudah karena medannya tak terlalu sulit. Meskipun suhu udara saat itu mencapai 5º Celcius, tubuh kami mengeluarkan cukup banyak keringat.

Pesona New Zealand yang tak ada habisnya

Turun gunung, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya, Queenstown yang berjarak sekitar 270 km dari Mount Cook. Tak ada perjalanan yang tak kami nikmati di sini. Mau ke mana pun, kami akan melalui jalan dengan pemandangan sekitar yang luar biasa indah. Beberapa titik yang sangat kami nikmati sepanjang jalan antara lain Lindis Valley dengan lembah-lembah berwarna kuning di musim gugur dan Wanaka yang merupakan kota resor dengan pemandangan memukau di kawasan Otega. Kami sempat singgah di Danau Wanaka sepanjang siang hingga sore untuk menikmati pemandangan dan makan siang.

Masuk ke pukul 19:00 waktu setempat, kami tiba di Queenstown. Setelah meletakkan barang bawaan di penginapan, kami keluar mencari udara segar dengan berjalan-jalan keliling kota kecil ini. Ternyata, malam hari di Queenstown cukup ramai dengan adanya berbagai aktivitas penduduk setempat dan traveler. Lagi-lagi karena tak tahan udara dingin, kami kembali ke penginapan menjelang tengah malam.

Keesokan harinya, kami menikmati sarapan di tepi Danau Wakatipu. Saat pagi, kawasan danau ini sudah ramai pengunjung. Selesai menikmati keindahan Queenstown, kami kembali ke Christchurch. Namun kali ini, kami mengambil rute yang berbeda. Jika sebelumnya kami melalui jalan yang penuh dengan pemandangan deretan pegunungan, saat pulang kami bisa melihat pantai dan laut yang luas menghampar.

Danau Wakatipu

Danau Wakatipu (sumber: dok pribadi)

Kami tiba di Christchurch pada malam hari. Besoknya, kami mengembalikan mobil sewaan dan melakukan perjalanan ke bandara. Petualangan kami menjelajah New Zealand berakhir di sini, tapi kami akan mengingat jelas semua hal yang telah kami lalui di Negeri Hobbit ini. Tak salah memang banyak produser film Hollywood memilih New Zealand sebagai lokasi syuting film-film terbaiknya, karena memang pesona negara ini sungguh tak terbantahkan.

Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !