Uncategorized

Mengagumi Angkasa Melalui National Air and Space Museum

The Borderless World
By The Borderless World 06 April 2017

Berlibur bersama pasangan, artinya harus memilih destinasi wisata yang menyenangkan bagi kedua pihak. Saat di Amerika, kami sepakat memilih untuk berkunjung ke Smithsonian Institution yang sudah sangat populer di kalangan wisatawan domestik dan mancanegara. Menjelang saatnya menjelajah Smithsonian Institution, kami sama-sama berharap keputusan yang kami buat sudahlah tepat.

Museum yang berada di kawasan Washington DC ini bisa menjadi tempat hiburan sekaligus menambah wawasan. Menariknya lagi, Smithsonian Institution tidak memungut biaya masuk alias gratis. Tak mengherankan tempat ini selalu ramai oleh pengunjung.

Bagian depan Smithsonian Institution, National Air and Space Museum. (Sumber: Dok. Pribadi)

Smithsonian Institution ini terbagi menjadi beberapa zona di antaranya museum, galeri, dan kebun binatang. Sudah terbayang betapa luasnya tempat ini? Karena banyaknya pilihan menarik yang ditawarkan, kami pun memilih salah satu museum yang menarik perhatian kami, yakni National Air and Space Museum.

Jika kamu pernah menonton film Night at the Museum: Battle of the Smithsonian, pasti tak asing dengan setting film tersebut. Museum ini menjadi latar ketika Larry Daley bertemu Amelia Earhart, penerbang wanita legendaris yang menyeberangi Samudera Pasifik.

Di sini, kami menemukan banyak sekali koleksi menarik tentang dunia penerbangan dan angkasa luar. Berikut rangkuman perjalanan kami di National Air and Space Museum

Koleksi pesawat terbang dari berbagai zaman

Ruang pameran pesawat. (Sumber: Dok. Pribadi)

Dari namanya saja tentu sudah jelas bahwa isi museum ini tak jauh-jauh dari koleksi yang berhubungan dengan pesawat dan angkasa luar. Begitu masuk ke ruang utama, kami langsung menemukan banyak sekali pesawat terbang bergelantungan dengan beragam jenis, mulai dari yang klasik sampai modern.

Replika Bell-X1. (Sumber: Dok. Pribadi)

Model pesawat di awal kemunculannya. (Sumber: Dok. Pribadi)

Salah satu pesawat yang menarik perhatian kami adalah Bell-X1, pesawat klasik berwarna merah dengan semburat oranye. Pesawat ini memiliki moncong lancip ke depan dan bodi ramping, mengingatkan kami pada beberapa film lama yang pernah kami tonton. Ada pula pesawat jenis lain yang lebih gagah dan modern, seperti U.S. Air Force, X-45A, bahkan pesawat-pesawat pada masa Orville dan Wilbur Wright atau lebih dikenal sebagai Wright bersaudara.

Einstein Planetarium: Journey to the Stars

Tiket masuk Einstein Planetarium. (Sumber: Dok. Pribadi)

Ada satu atraksi yang sangat kami ingat dan nikmati, yaitu Journey to the Stars yang berada di Einstein Planetarium. Inilah pertunjukan video paling spektakuler yang pernah kami saksikan. Meskipun kami harus mengeluarkan uang sebesar USD 5, namun rasanya kami tak keberatan untuk membayar lagi dan menonton untuk kedua kalinya.

Konstelasi bintang di tata surya. (Sumber: Dok. Pribadi)

Sungguh luar biasa! Kami merasa benar-benar seperti sedang terbang bersama taburan bintang di antara galaksi dan angkasa nan luas di atas kepala. Seolah-olah kami terbang melayang di tengah-tengah konstelasi bintang di jagat raya. Sampai sekarang, kami masih ingat betul pengalaman menakjubkan tersebut.

Benarkah ada kehidupan di Mars?

Replika planet. (Sumber: Dok. Pribadi)

Berada di museum ini belum lengkap tanpa melihat diorama planet dalam tata surya. Kami pun menyempatkan untuk menyaksikan diorama planet yang ditata dengan sangat apik dan menawan di atas kepala pengunjung. Mempelajari gugusan planet dalam tata surya ternyata jauh lebih mudah dan menyenangkan ketika dapat menyaksikannya secara langsung seperti ini.

Berbicara tentang angkasa luar tentu belum lengkap tanpa menyinggung Planet Merah, Mars. Selain kedekatannya dengan bumi, Mars juga menjadi salah satu bukti ambisi umat manusia untuk menemukan keberadaan makhluk hidup selain di Bumi. Hal ini terbukti dengan adanya beragam misi ke Mars untuk meneliti apakah ada kehidupan di planet tersebut.

The Viking Lander. (Sumber: Dok. Pribadi)

Kami sempat melihat The Viking Lander, semacam kendaraan tanpa awak yang digunakan untuk meneliti keadaan di sana. Meskipun hingga saat ini belum ada bukti autentik yang menyebutkan bahwa ada kehidupan di Mars, namun pesona planet ini tidak pernah pudar di mata para peneliti antariksa maupun khalayak umum.

Replika roket. (Sumber: Dok. Pribadi)

Selain The Viking Lander, ada pula replika roket dan diorama peluncurannya yang biasa digunakan untuk misi peluncuran ke luar angkasa. Meskipun ukurannya tidak sesuai dengan ukuran roket yang sebenarnya, namun melihat roket ini secara langsung dari jarak dekat sudah menggetarkan hati. Rasanya, kami sedang menjalankan misi penting menuju angkasa luar.

 

Mengenal cara para astronaut bertahan hidup di luar Bumi

Tugas yang disandang para astronaut sungguh tak mudah. Mereka harus bertahan hidup di luar Bumi, kemampuan beradaptasi mereka pastilah luar biasa. Untuk membantu para astronaut bertahan, diciptakanlah perangkat pendukung seperti kostum dan toilet khusus.

Kostum astronaut. (Sumber: Dok. Pribadi)

Salah satu aksesori yang tak kalah menarik perhatian kami adalah pakaian astronaut ini. Bagi penggemar film-film fiksi ilmiah penjelajahan angkasa luar, pasti akrab dengan pakaian tersebut. Dilihat dari jarak dekat, pakaian astronaut ternyata memang sangat gagah. Tak heran jika Sandra Bullock dan George Clooney jadi terlihat begitu memukau saat berakting di film Gravity.

Pernah membayangkan bagaimana para astronaut harus menuntaskan hajatnya ketika sedang berada di stasiun luar angkasa? Ya, ini adalah hal sepele yang tetap saja membuat penasaran. Walaupun sedang berada di luar angkasa, bukan berarti kebutuhan primer untuk buang air bisa ditunda. Terlebih misi luar angkasa biasanyamembutuhkan waktu hingga berbulan-bulan lamanya. Maka sungguh mustahil jika para astronaut harus pulang ke Bumi hanya untuk buang air saja.

Lalu bagaimana cara mengakomodir kebutuhan tersebut? Ternyata, di stasiun luar angkasa telah disediakan toilet luar angkasa. Yap, toilet luar angkasa. Fasilitas ini tentu saja berfungsi untuk memudahkan para astronaut selama berada jauh dari Bumi.

Menggabungkan science dan fiksi

Museum ini semakin menarik karena mengusung perpaduan antara sains dan fiksi. Bahkan, khusus bagi penggemar film Star Wars (seperti kami berdua) pasti akan senang ketika menuju  booth merchandise, karena akan menemukan patung Master Yoda terpajang di sana. Apakah ia dianggap sebagai bentuk alien yang sesungguhnya atau ia memang merupakanJedi paling bijaksana di alam semesta?

Kami pun berkesimpulan bahwa dunia Star Wars sepertinya telah menjadi rujukan resmi kehidupan di luar Galaksi Bimasakti ini bagi masyarakat Amerika Serikat. Itu hanya dugaan kami saja, sih. Namun yang pasti, hal tersebut sungguh menarik ketika melihat ada tokoh fiksi yang menjadi ikon dan dipamerkan di salah satu museum terbesar di Amerika Serikat. Sepertinya, masyarakat Amerika sudah sangat percaya bahwa Star Wars bukan hanya fiksi, namun benar-benar ada di galaksi nun jauh di sana.

 

Perjalananan menjelajahi National Air dan Space Museum akhirnya harus berakhir. Seharian menjelajahi museum ini sudah cukup membuat kami kelelahan, apalagi jika harus menjelajah seluruh kawasan Smithsonian Institution. Tak bisa dibayangkan butuh berapa hari untuk menikmati keseluruhan museum yang ada di Smitshonian Institution ini sampai tuntas.

Meskipun hanya mengunjungi National Air dan Space Museum, namun pengalaman tersebut tidak akan pernah kami lupakan. Setidaknya, museum ini telah memberikan pengalaman baru, bahwa ternyata dunia pesawat dan angkasa luar dapat menjadi semenarik ini.

 

Kini, hotel-hotel terbaik di Washington bisa dipesan melalui Traveloka.

Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !