Tak Hanya Wakatobi, Kamu Pun Harus ke Labengki dan Sambori!

Kota Kendari memang terkenal sebagai pintu masuk ke Wakatobi, “surga bawah laut” di Sulawesi Tenggara. Wakatobi menarik wisatawan dengan taman nasional yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia. Namun, apakah hanya kawasan itu yang menjadi tujuan wisata? Tidak. Nyatanya, ada beberapa pulau yang ternyata tak kalah menakjubkan dari Wakatobi.

Libur Lebaran kemarin, saya berencana untuk traveling. Awalnya, saya berencana ke Pulau Misool, salah satu pulau besar di Raja Ampat, namun batal karena cuaca buruk yang dikabarkan oleh pihak penginapan. Tak ingin pasrah karena hampir tak jadi jalan-jalan, saya langsung mencari alternatif destinasi wisata di kawasan Indonesia bagian timur. Setelah mencari informasi di internet, saya menemukan paket open trip ke Labengki – Sombori. 

Mungkin Labengki dan Sombori masih belum banyak dikenal wisatawan lokal, termasuk saya. Oleh karena itu, saya semakin penasaran melihat itinerary perjalanan yang ternyata cukup menarik. Setelah mantap menjadikan Labengki dan Sombori sebagai destinasi liburan kali ini, saya segera menghubungi operator jasa open trip dan memesan tiket pesawat. “Benar-benar rencana traveling yang mendadak!” pikir saya dalam hati.

Hari Selasa sekitar 04:00, saya sudah berada di Bandara International Soekarno-Hatta karena jadwal penerbangan saya ke Kendari pukul 06:00. Pihak jasa open trip akan menjemput saya dan rombongan pukul 11:00 di Bandara Hahuleo. Setibanya di bandara, kami langsung disambut oleh pemandu tur. Total rombongan saya adalah 15 orang, sehingga kami disediakan tiga mobil. Kami diantar ke hotel untuk check in dan makan siang.

Selesai bersiap diri, kami berangkat menuju destinasi pertama, Air Terjun Moramo. Tempat ini berada di Sumber Sari, Moramo, dapat ditempuh selama 2 jam dari Kendari. Akses ke Air Terjun Moramo sebagian ada yang rusak, namun tetap bisa dilalui kendaraan. Di sini, kamu akan sulit mendapatkan sinyal, jadi ini adalah waktu untuk menikmati alam sepenuhnya.

Air Terjun Moramo (Sumber: Dok. Pribadi)

Air Terjun Moramo terletak di dalam kawasan hutan lindung. Jadi, kami perlu sedikit trekking untuk mencapainya. Saya menyarankan agar kamu datang ke sini pada pagi atau siang hari karena keadaan hutan masih terang dan lebih aman. Setelah trekking sekitar 30 menit, tibalah kami di air terjun ini. Jangan puas dulu setelah melihat bagian bawah air terjun. Naiklah sedikit lagi untuk melihat sisi berbeda dari Air Terjun Moramo

Di sini, saya puas berenang bersama rombongan sambil berfoto. Sayangnya, kami tak bisa berlama-lama karena hari sudah mulai gelap. Tak ingin membahayakan diri, akhirnya kami pun pulang ke hotel dengan perjalanan sekitar 2 jam. Sebelum kembali ke hotel, kami makan malam dengan hidangan laut yang lezat dan beristirahat.

Hari kedua, kami dijemput oleh pemandu tur yang akan mengantar ke pelabuhan Kendari. Ya, kami menyeberang ke Pulau Labengki dan Sombori. Ada pengalaman unik ketika saya menumpang buang air kecil di rumah warga. Saya dan teman-teman perempuan diharuskan menggunakan sarung untuk buang air kecil karena mereka tidak memiliki ruangan yang memadai.

Sekitar 08:00, kami berangkat menuju Pulau Labengki Kecil. Perjalanan memakan waktu selama 4 jam dan sukses membuat saya terlelap. Saat saya bangun, kapal sudah bersandar di dermaga. Kami makan siang, berganti baju, dan bercengkrama dengan anak-anak suku Bajo yang merupakan penduduk asli pulau ini. Anak-anak itu sangat ramah kepada kami. Walaupun tak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia, mereka berusaha untuk tetap berinteraksi dengan kami. Bahkan, ada salah satu anak yang mengajak kami berkunjung ke rumahnya. Menarik, bukan?

Selanjutnya, kami mengunjungi Pulau Labengki Besar untuk snorkeling. Sebelum itu, kami trekking ke batu besar yang terletak di pinggir pantai. Batu besar berwarna hitam itu sangat menarik perhatian saya untuk segera memanjat batu tersebut. Kamu wajib menggunakan alas kaki yang nyaman jika ingin trekking ke batu ini karena permukaan yang cukup tajam. Tak perlu berlama-lama trekking, kami sudah sampai di puncak batu.

Pemandangan pantai Pulau Labengki Besar dari atas batu sangat menakjubkan. Ditambah hari itu cukup cerah, gradasi biru air laut semakin terlihat cantik. Puas berfoto, saya turun dan segera mengambil peralatan snorkeling. Setelah hampir dua jam, saya dan rombongan naik ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Sombori. Pulau ini menjadi tempat bermalam kami untuk dua malam ke depan. 

Pulau Labengki Besar (Sumber: Dok. Pribadi)

Keesokan pagi, kami mengunjungi destinasi pertama, yaitu Rumah Nenek. Disebut “Rumah Nenek” karena ada seorang nenek yang menempati rumah panggung di balik perbukitan karst. Pemandangan alam di sini sangat cantik. Si Nenek menyambut kami dengan ramah. Meski kondisinya, beliau tetap semangat menyuguhkan kopi untuk kami. Usai mengobrol, kami pamit untuk melanjutkan wisata ke Goa Allo dengan tak lupa berterima kasih.

Rumah Nenek (Sumber: Dok. Pribadi)

Goa Allo atau yang biasa disebut Goa Kolam Renang adalah gua yang terletak di balik Pulau Labengki Kecil. Gua tersebut disebut “Goa Kolam Renang” karena berbentuk seperti kolam. Awalnya, kondisi gua yang gelap cukup membuat saya agak takut. Apalagi, adanya kehadiran beberapa kelelawar yang mondar-mandir di dalamnya. Namun, ketakutan saya terkalahkan dengan kolam air jernih yang terasa menyegarkan.

Goa Allo (Goa Kolam Renang) (Sumber: Dok. Pribadi)

Destinasi selanjutnya adalah Lagoon Rumah Nenek. Kami kembali melewati Rumah Nenek untuk menikmati birunya laguna yang terletak dekat dari Rumah Nenek. Pemandangan sekitarnya juga sangat indah, ada perbukitan karst dan pepohonan yang rindang. Sorenya, kami menuju Pantai Koko dan bermain-main menghabiskan waktu di pantai ini. Usai puas bermain air, kami sudahi perjalanan dan kembali ke Pulau Sombori untuk beristirahat.

Pantai Koko (Sumber: Dok. Pribadi)

Keesokan harinya, kami kembali ke Kendari. Di perjalanan, kami mampir ke Sombori Hills yang terkenal mirip dengan Pianemo di Raja Ampat. Menurut saya, trekking ke Sombori Hills lebih susah daripada Pianemo karena tidak ada dermaga dan memiliki karst yang lebih tajam. Selain itu, batuan karstnya mudah lengser, sehingga kamu harus ekstra hati-hati. Demi keselamatan, gunakan sarung tangan dan sepatu yang nyaman, ya.

Sombori Hills (Sumber: Dok. Pribadi)

Setelah puas berfoto dan menikmati keindahan Sombori Hills, kami turun dan melanjutkan perjalanan ke Teluk Cinta. Dinamakan demikian karena bentuk permukaan air teluk ini mirip hati yang melambangkan cinta. Mencapai teluk ini tidak susah karena kapal bisa bersandar dataran pantai dan sudah ada tangga untuk mencapai puncak. Kami tidak berlama-lama di sini karena mendadak turun hujan. Akhirnya, kami segera melanjutkan perjalanan kembali ke Kendari.

Teluk Cinta (Sumber: Dok. Pribadi)

Sekarang, sudah tahu ada apa saja di Pulau Labengki dan Sombori, bukan? Yuk, segera saksikan langsung keindahan alam yang tak kalah menakjubkan dari Wakatobi di Sulawesi Tenggara ini! Sama seperti saya, kamu pun pasti akan puas berkunjung ke sini!

50 Shares
Share50
Pin
Share
Tweet
+1