Gunung Raung, Jalur Pendakian Bagi Penantang Adrenalin

Gunung Raung, Jalur Pendakian Bagi Penantang Adrenalin

Bagi kalangan pendaki, nama Gunung Raung tentu sudah amat familier. Gunung ini memiliki medan pendakian yang istimewa karena tergolong sulit. Bagaimana tidak, para pendaki akan disuguhi jalur tanjakan dimulai dari titik awal pendakian. Jalur menuju puncak pun ekstrem karena hanya berupa tebing dengan jurang di sisi kanan dan kirinya.

Meski memiliki karakter medan yang menantang, Gunung Raung tetap menjadi tujuan pendakian para penyuka adrenalin. Hal ini karena daya tarik puncak Gunung Raung yang terkenal akan keindahannya. Jika kamu berencana untuk mendaki Gunung Raung, beberapa informasi penting seputar gunung tersebut bisa kamu dapatkan di bawah ini:

Keistimewaan Gunung Raung

Jalur pendakian yang cukup menantang membuat Gunung Raung tidak disarankan bagi pendaki pemula. Namun, tetap saja banyak pendaki yang tak kuasa untuk melewatkan pesona gunung ini. Tiga keistimewaan inilah yang membuat banyak pendaki rela mendaki Gunung Raung meski harus melewati medan cukup berat:

Memiliki kaldera yang besar dan unik

(Sumber: @imranrosyadi)

Akibat letusan dahsyat, puncak Gunung Raung membentuk sebuah kaldera (kawah raksasa) kering yang besar. Kaldera tersebut berbentuk bulat dengan kedalaman 500 meter yang masih aktif mengeluarkan asap belerang dan menyemburkan api. Kaldera Gunung Raung juga menjadi kaldera kering terbesar kedua di Indonesia setelah Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, sekaligus kaldera kering terbesar di Pulau Jawa.

Memiliki empat puncak

 

 

(Sumber: @garudaiken)

Di Gunung Raung, kamu akan menemukan empat puncak yaitu Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati sebagai puncak yang tertinggi. Untuk mendaki puncak tersebut, kamu harus menggunakan atribut keamanan. Pasalnya, Gunung Raung kerap mengalami pergantian cuaca drastis yang bisa menyebabkan tanah longsor dan angin kencang.

Setiap puncak memiliki karakter dan keindahan yang berbeda. Dimulai dari Puncak Bendera, kamu bisa beristirahat di hamparan lahan datar sambil menikmati pemandangan Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati yang saling menyatu. Kamu pun bisa melihat kondisi jalan setapak menuju ketiga puncak tersebut.

Sedangkan di Puncak Tusuk Gigi dan Puncak 17, kamu bisa melihat pemandangan sekitar gunung dari berbagai sudut. Namun, kedua puncak tersebut hanya berupa tebing sempit sehingga pendaki harus lebih berhati-hati dan menjaga keselamatan antar pendaki lainnya.

Sementara dari Puncak Sejati, kamu bisa menikmati keindahan kaldera Gunung Raung yang begitu besar dengan kepulan asap tipis di atasnya. Puncak Sejati memiliki lahan yang cukup luas dengan sebuah triangulasi dan plang bertuliskan “Puncak Sejati”. Di sinilah spot berfoto favorit pendaki dengan latar kawah dan kaldera Gunung Raung yang gagah.

Termasuk anak Pegunungan Ijen

(Sumber: @nopalrahman)

Gunung Raung merupakan gunung berapi aktif yang termasuk kelompok pegunungan Ijen, di antaranya Gunung Suket (2.950 mdpl), Gunung Pendil (2.338 mdpl), Gunung Rante (2.644 mdpl), Gunung Merapi (2.800 mdpl), Gunung Remuk (2.092 mdpl), dan Gunung  Ijen (2.443 mdpl). Dari beberapa gunung tersebut, Gunung Raung menjadi gunung tertinggi dalam jajaran pegunungan Ijen dengan ketinggian 3.344 mdpl.

Lokasi dan akses menuju Gunung Raung

Secara geografis, Gunung Raung masuk di tiga kabupaten yaitu Besuki, Banyuwangi, dan Bondowoso. Bagi kamu yang ingin menaklukkan Gunung Raung, terdapat beberapa rute pendakian yang bisa dilalui. Di antaranya adalah jalur Kalibaru dan Sumber Waringin yang paling ramai dipilih para pendaki. Kedua jalur tersebut menyajikan tantangan dan pesona yang berbeda untuk sampai ke puncak Gunung Raung.

Via Kalibaru

(Sumber: @republikraung_3344)

Pendakian Gunung Raung via Kalibaru terletak di Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kalibaru, Banyuwangi. Jika berasal dari luar Banyuwangi, kamu bisa menggunakan kereta api tujuan Stasiun Kalibaru. Sesampainya di stasiun, kamu bisa naik ojek atau menyewa mobil untuk menuju base camp Kalibaru.

Setelah mempersiapkan segala kebutuhan di basecamp, kamu bisa segera memulai pendakian. Dari basecamp, kamu akan melewati perkebunan kopi milik warga dengan estimasi waktu perjalanan sekitar 3 jam. Bagi yang ingin mempersingkat waktu, kamu bisa naik ojek sampai Pos 1 yang berada di tengah kebun kopi. Di sana, terdapat pondok bambu yang bisa kamu jadikan tempat beristirahat.

Tak jauh dari pos, terdapat sungai yang biasa dimanfaatkan pendaki untuk mengisi ulang botol-botol air minum. Selain sungai ini, kamu tak akan menemukan sumber air lain di sepanjang jalur pendakian Gunung Raung. Oleh karena itu, setiap pendaki diwajibkan membawa persediaan air minum yang cukup.

Selanjutnya, kamu akan kembali menyusuri perkebunan kopi hingga memasuki kawasan hutan lebat dengan medan berupa jalan tanah yang datar dan sedikit menanjak. Kurang lebih 4 jam perjalanan, kamu pun akan tiba di Pos 2. Di pos ini, banyak pendaki memilih mendirikan tenda untuk beristirahat dan memasak makanan karena lelah dengan trek yang panjang dan menantang.

Setelah dari Pos 2, jalur pendakian akan semakin sulit dengan tanjakan yang cukup terjal. Jalur tersebut hanya berupa jalan setapak sempit yang dikelilingi banyak tanaman semak berduri di sisi jalan. Pada rute ini, pendaki umumnya menghabiskan waktu 2 jam untuk sampai di Pos 3.

Selanjutnya, kamu masih harus berjalan hingga Pos 4 dan Pos 5. Meski jalur pendakian semakin menanjak, jarak antar pos tersebut tergolong cukup dekat. Menuju Pos 6, kamu harus lebih fokus dan berhati-hati karena terdapat jurang di sisi kanan dan kiri jalur pendakian. Medan pendakian pun berubah menjadi trek terjal yang dikelilingi hutan rimbun.

Sesampainya di Pos 6, kamu bisa beristirahat dan mendirikan tenda sambil melihat pemandangan indah dari atas bukit. Bila merasa telah beristirahat cukup, kamu pun bisa segera memulai summit (pendakian ke puncak). Dari rute ini, kamu akan terlebih dahulu menemui Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, hingga terakhir Puncak Sejati sebagai Puncak tertinggi.

Untuk sampai di setiap puncak tersebut, hanya ada satu jalur yang bisa dilalui. Jalur tersebut sangatlah ekstrem karena hanya berupa jalan setapak dengan jurang di sisi kanan dan kirinya. Di sinilah pendakian Gunung Raung via Kalibaru membutuhkan peralatan keselamatan yang memadai serta keahlian climbing yang baik.

Via Sumber Wringin

(Sumber: @allamzah)

Rute pendakian via Sumber Waringin merupakan satu-satunya jalur pendakian melalui Bondowoso. Basecamp-nya terletak di Desa Sumber Wringin, Wonosari, Bondowoso. Jalur ini merupakan jalur yang paling sering dipilih pendaki sebelum adanya jalur Kalibaru yang baru dibuka awal tahun 2000.

Untuk sampai di basecamp, kamu bisa mengarahkan kendaraan menuju Wonosari hingga sampai di pertigaan Gardu Atta. Dari pertigaan, kamu bisa melanjutkan perjalanan menuju Desa Sumber Waringin sebagai titik awal pendakian Gunung Raung.

Pendakian Gunung Raung via Sumber Wrigin dimulai dengan melalui perkebunan kopi milik warga menuju Pondok Motor (Pos 1). Perjalanan ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 3 jam dengan berjalan kaki. Untungnya, kamu bisa naik ojek menuju Pos 1 untuk mempersingkat waktu, sekaligus menghemat energi.

Lalu, kamu akan melalui berbagai medan, seperti ladang warga, kebun kopi, semak ilalang, hingga hutan yang rimbun untuk sampai di Pondok Sumur (Pos 2). Teruslah berjalan mengikuti jalan setapak yang ada hingga melewati Pondok Tonyok (Pos 3) dan Pondok Demit (Pos 4).  Nantinya, kamu bisa beristirahat dan mendirikan tenda di Pos 4 sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Pondok Mayit (Pos 5).

Pondok Mayit merupakan tempat favorit pendaki untuk mendirikan tenda. Menariknya, di sekitar Pos 5 terdapat prasasti sederhana dari tumpukan batu bertuliskan “In Memoriam Deden Hidayat”. Deden Hidayat adalah seorang pendaki yang tewas di Gunung Raung.

Lanjutkanlah pendakian menuju Pondok Angin (Pos 6) dengan melewati trek yang semakin berat. Dari pos inilah kamu bisa melakukan summit melalui jalur yang ekstrem. Kamu harus melewati jalan setapak dengan jurang di sisi kanan dan kiri jalur. Meskipun begitu, puncak bisa diraih tanpa harus menggunakan peralatan climbing.

Selain itu, salah satu daya tarik jalur pendakian Gunung Raung via Sumber Kringin adalah pendaki bisa langsung sampai di Puncak Sumber Wringin yang berada di seberang Puncak Sejati Gunung Raung. Kamu pun bisa melihat kaldera dan kawah gunung yang indah. Hal ini berbeda dengan jalur pendakian via Kalibaru, di mana pendaki hanya akan bertemu Puncak Bendera setelah melewati pos terakhir.

Fasilitas dan akomodasi di Gunung Raung

Kawasan Gunung Raung belum memiliki fasilitas cukup untuk mendukung aktivitas pendakian. Jika kamu membutuhkan tempat untuk beristirahat, kamu bisa menyewa rumah warga yang berada di sekitar basecamp. Sementara untuk makan, tersedia beberapa warung yang menyediakan kebutuhan makanan dan minuman.

Oleh karena itu, sangatlah penting mempersiapkan segala perbekalan dan peralatan yang dibutuhkan agar kamu bisa merasa lebih nyaman dan aman selama melakukan pendakian di Gunung Raung.    

Harga tiket masuk dan jam operasional

Setiap pendaki harus melakukan pendaftaran pendakian dan membayar SIMAKSI (surat izin masuk kawasan konservasi) dengan tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Sedangkan untuk menginap di rumah warga, kamu akan dikenakan biaya tambahan yang bervariasi, tergantung kesepakatan dengan pemilik rumah. Siapkan pula uang lebih bila kamu ingin naik ojek dari basecamp menuju Pos 1.

Itulah keistimewaan dari Gunung Raung yang ada di Jawa Timur. Jika kamu tertarik dan merasa berani untuk uji nyali mendaki gunung satu ini, yuk segera siapkan rencana pendakian ke Gunung Raung tahun ini!

0 Shares
Share
Pin
Share
Tweet
+1