Ho Chi Minh City, Menjejak Masa Lalu di Masa Kini

rizkidwika
By rizkidwika 21 April 2017

Sebagai pelancong dengan anggaran ala kadarnya, dalam perjalanan ke Ho Chi Minh City ini saya menantang diri untuk berhemat sedemikian rupa. Saya memberanikan diri berangkat hanya dengan bermodal selembar uang 100 USD saja untuk akomodasi hidup selama satu minggu di sana, dengan catatan, bujet itu belum termasuk biaya penginapan. Sebelumnya, saya sudah memesan hotel via Traveloka yang relatif lebih mudah karena dibayar dalam rupiah.

Kelihatannya sedikit, namun dengan nilai mata uang dong yang lebih rendah terhadap dolar maupun rupiah, rasa-rasanya saya seperti menjadi jutawan mendadak ketika selembar uang tadi ditukarkan ke dalam mata uang mereka.

jalur pedestrian

Jalur pedestrian di tengah kota. (Sumber: Dok. Pribadi)

Hari-hari pertama di Ho Chi Minh City saya habiskan dengan menjelajah seisi kota. Kesan pertama yang saya rasakan, kota ini sangat tertata dan memiliki banyak sekali taman di setiap penjurunya. Tidak hanya itu, fasilitas pejalan kaki yang disediakan pun dibuat lebar dan dilengkapi dengan pepohonan rindang di sepanjang jalur pedestrian. Hal inilah yang membuat saya menjadi betah menjelajahi kota ini meski hanya dengan berjalan kaki.

Walau memiliki cuaca yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta, seringkali pemandangan di pusat-pusat kota Ho Chi Minh City yang tengah saya nikmati justru mengingatkan saya pada romantisme Bandung. Uniknya, seperti halnya Bandung yang memiliki julukan Paris van Java, Ho Chi Minh City juga memiliki julukan serupa, yaitu The Paris of the Orient.

Istilah ini nampaknya tidak berlebihan karena kota ini dibelah oleh aliran sungai-sungai berukuran besar seperti Paris.  Selain itu, kota ini juga memiliki banyak peninggalan arsitektur bergaya imperium yang dibangun sejak era penjajahan Prancis di masa silam. Bangunan-bangunan tersebut tersebar di kawasan bernama Distrik 1, jantungnya para wisatawan di tengah kota berpenduduk tujuh juta jiwa ini.

ruang hijau pusat kota ho chi minh

Le Duan Square, kawasan hijau di pusat kota. (Sumber: Dok. Pribadi)

Ketika menjelajah pusat Distrik 1, kita seolah ditarik kembali ke masa lalu. Belasan museum, katedral, monumen, juga bangunan-bangunan tua di kota ini masih kokoh berdiri, bahkan terawat dengan sangat apik hingga detik ini. Menariknya lagi, hampir semua bangunan tua di kota ini memiliki gaya yang amat berbeda dengan gedung-gedung peninggalan Belanda di Indonesia. Perbedaan yang jarang ditemui inilah yang membuat saya tertarik untuk merangkumkan daftar lima bangunan ikonis dari Kota Paman Ho yang patut untuk disambangi berikut ini:

1. Katedral Notre Dame

Katedral Notre Dame Saigon

Katedral Notre Dame. (Sumber: Dok. Pribadi)

Salah satu bangunan yang harus didatangi ketika menjelajah ke Ho Chi Minh City adalah Katedral Notre Dame Basilica of Saigon yang berada di seberang Le Duan Square. Keunikan dari katedral yang selesai dibangun pada tahun 1880 ini adalah tampilannya yang kentara dari sisi luar dengan dominasi warna merah kecokelatan, bukan warna abu-abu seperti katedral pada umumnya.

Begitu memasuki bagian dalamnya, saya bisa melihat diorama, altar, serta area tempat peribadatan bernuansa temaram yang semakin dramatis dengan bias cahaya yang masuk melalui kaca patri warna-warni. Untuk memasuki gereja ini sendiri, kita dibebaskan tanpa tiket masuk. Meski begitu, di bagian luar gereja akan banyak penjual suvenir yang menunggu untuk menawarkan dagangannya pada setiap wisatawan, bahkan ada yang menggunakan Bahasa Indonesia!

2. Kantor Pos Pusat

Kantor Pos Ho Chi Minh

Gedung Kantor Pos tampak dari luar. (Sumber: Dok. Pribadi)

Tepat di sebelah timur katedral, terdapat Gedung Kantor Pos Pusat Saigon yang memiliki tampilan menarik. Tak hanya pada bagian luarnya saja, tetapi juga sampai ke bagian ruang interiornya menunjukkan sisa-sisa kejayaan masa lalu. Sesuai dengan namanya, gedung ini menyimpan cerita panjang mengenai sejarah komunikasi di negara-negara Indochina, terutama urusan surat menyurat dan jalur telegraf yang terkoneksi hingga ke Kamboja pada akhir abad ke-19.

Interior Kantor Pos

Bagian dalam Gedung Kantor Pos. (Sumber: Dok. Pribadi)

Kantor Pos Pusat Saigon yang selesai dibangun tak lama setelah Katedral diresmikan ini masih berfungsi sebagai tempat untuk warga yang ingin mengirimkan paket atau barang sampai sekarang. Sekarang, bangunan ini bahkan memiliki fungsi lain yaitu menjadi salah satu tempat berbelanja bagi turis untuk melihat beragam pernak-pernik khas Vietnam seperti koleksi prangko dan kartu pos, kerajinan tangan, hingga kopi.

 

3. Ho Chi Minh City Museum

Museum Ho Chi Minh City

Salah satu diorama di Ho Chi Minh City Museum. (Sumber: Dok. Pribadi)

Cara tercepat untuk mengetahui seluk-beluk perkembangan kota dan masyarakatnya adalah melalui museumnya. Ho Chi Minh City memiliki beberapa museum tematik yang tersebar di Distrik 1, salah satunya adalah Gia Long Palace, atau dikenal sebagai Ho Chi Minh City Museum.

Bekas bangunan istana ini didirikan pada masa kolonialisme Prancis pada akhir abad ke-19, terbagi ke dalam dua lantai serta dua bangunan paviliun dengan pengaruh arsitektur barok yang sangat kuat. Dalam perkembangannya, Gia Long Palace diubah menjadi museum kota yang menceritakan kehidupan sosial masyarakat Vietnam di masa lalu hingga masa sekarang.

Berbagai diorama dan benda pamer pun dipajang di sini, mulai dari baju adat, koleksi mata uang, hingga benda-benda perbekalan prajurit Viet Kong saat perang gerilya. Untuk mengunjungi museum ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar 15.000 dong per orang. Sebagai catatan, di museum ini kita hanya diperbolehkan memotret dengan kamera ponsel, bukan kamera profesional. Kalau tidak, kita harus membayar charge yang cukup besar.

4. Reunification Palace

Reunification Palace

Penampakan gerbang utama Reunification Palace. (Sumber: Dok. Pribadi)

Berdiri di atas lahan seluas 12 hektar yang memiliki padang rumput luas dengan hutan kota yang rindang, Reunification Palace menjadi penanda dimana pusat kota Ho Chi Minh City berada. Nama “reunification” sendiri diambil dari peristiwa bersejarah terpenting bangsa mereka, karena istana inilah yang menjadi titik terakhir pertahanan Vietnam Selatan hingga akhirnya kalah dan harus melebur menjadi negara Vietnam yang tunggal di bawah kepemimpinan Vietnam Utara.

Di dalam istana, kita dapat melihat berbagai ruangan yang menjadi saksi bisu dibuatnya perjanjian-perjanjian yang mengakhiri perang saudara lengkap dengan furniturnya. Untuk mengunjungi mantan istana kepresidenan ini sendiri, pengunjung diwajibkan untuk membayar tiket sebesar 40.000 dong, nantinya, kamu juga dapat berfoto-foto di dalamnya.

 

Email

5. The War Remnants Museum

Bagian depan The War Remnants Museum. (Sumber: Dok. Pribadi)

Salah satu museum yang mendokumentasikan secara lengkap setiap memori kelam dari Perang Vietnam adalah The War Remnants Museum yang letaknya tidak jauh dari Reunification Palace. Dengan tiket masuk sebesar 15.000 dong, di museum ini kita bakal disuguhkan berbagai dampak yang terjadi pada bangsa mereka ketika harus melakukan peperangan.

Begitu masuk, kita bakal langsung disambut jajaran armada udara tentara Amerika yang terparkir rapi di halaman depan. Di pelataran juga berdiri bekas-bekas reruntuhan penjara dan ruang penyiksaan untuk rakyat di masa itu.

Gambaran gelap dari dampak perang semakin terasa di area ruang pamer yang ada di bangunan utama. Berbagai kisah pilu dari para korban perang pun terabadikan lewat foto, video, serta benda-benda peninggalan seperti senjata, bom, hingga alat-alat pemusnah biologis yang dulu digunakan tentara Amerika untuk menghabisi bangsa mereka.

***

Menjelajah sejarah dari setiap sudut Ho Chi Minh City membawa pengalaman yang berkesan bagi saya. Selain kotanya yang lebih ramah terhadap pejalan kaki, ketimbang Jakarta, Ho Chi Minh City juga terlihat jauh lebih pintar merawat peninggalan dan menghargai kenangan masa lalunya.

Ho Chi Minh City bisa menjadi jawaban tepat bagi kamu yang pertama kali bepergian ke luar negeri. Jangan takut untuk mengeksplorasi negara anti mainstream sembari mengulik hal-hal menarik seperti kisah sejarah warga lokal, karena wisata tak melulu soal pantai dan foto-foto yang dipamerkan di media sosial.

Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !
Tags