6 Kegiatan Backpacker Selama Berada di Hong Kong, Kamu Harus Coba!

Anggita Rian
By Anggita Rian 09 May 2017

Barangkali ini terkesan kurang sopan, tapi saat pertama kali berpikir tentang Hong Kong, hal yang terlintas pastilah tenaga kerja Indonesia alias TKI/TKW. Hal ini tentu saja bukan tanpa alasan. Saat melakukan perjalanan ke Hong Kong di tahun 2015 lalu, saya bertemu dengan seorang ibu bersama gadis muda yang ternyata berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa yang sangat khas. Ketika saya bertanya, si ibu memang sudah lama mengadu nasib sebagai TKW di sini dan anaknya yang baru tiba ini juga akan bekerja sebagai TKW.

Selebihnya, berada di Hong Kong tak membuat saya mengalami culture shock secara berlebih.  Saat itu, cuaca Hong Kong cukup panas dengan tingkat kelembapan yang lumayan tinggi. Yang saya suka dari negara ini adalah akses transportasi begitu mudah, jadi saya bisa berkeliling dengan leluasa. Kami menggunakan Octopus Card, sebuah kartu serbaguna yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi apa saja.Berikut kegiatan favorit saya selama di Hong Kong:

Berkunjung ke Big Buddha Ngong Ping

Big Budha Ngong Ping

Big Budha Ngong Ping (Sumber: Dok. Pribadi)

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Big Buddha Ngong Ping yang terletak di Lantau Island. Patung ini merupakan patung Buddha terbesar kedua di dunia, sedangkan yang paling besar ada di Taiwan. Ketinggian Big Buddha Ngong Ping mencapai 34 meter dengan berat kurang lebih 250 ton. Konon, patung ini bisa dilihat dari Macau. Di dalam Patung Big Buddha ini terdapat makam orang-orang penting Hong Kong, mulai dari panglima perang hingga selebritas pun ada.

Untuk menuju ke sini, kami tidak perlu menyeberang pulau, cukup naik MRT dari Central ke Tung Chung, lalu dilanjutkan naik bus atau naik kereta gantung. Kami memutuskan untuk naik bus saja. Selain jauh lebih murah, antreannya juga tidak sepanjang kalau naik kereta gantung. Dengan membayar 17 dolar Hong Kong, perjalanannya akan memakan waktu kurang lebih 1 jam.

Kuil di Ngong Ping

Kuil di Ngong Ping (Sumber: Dok. Pribadi)

Sesampainya di komplek Big Buddha, kami memutuskan untuk makan dulu supaya kuat menaiki 268 anak tangga menuju lokasi patung Big Buddha berdiri. Ada restoran kecil tepat di sebelah kuil, yang menyajikan makanan khas Hong Kong. Makanannya enak dan harganya berkisar antara Rp20.000 – Rp100.000 per menu setelah dikonversi ke rupiah. Ada juga beberapa toko cendera mata di sekitar komplek. Yang paling unik adalah sebuah toko yang menjual emas dan batuan berharga yang sepertinya cocok banget kalau dijadikan batu akik.

Romantisnya Victoria Harbour

Victoria Harbour

Victoria Harbour (Sumber: Dok. Pribadi)

Victoria Harbour merupakan dermaga yang menghubungkan sejumlah titik penting di Hong Kong. Di sini, kamu bisa menyaksikan pertunjukan Symphony of Lights yang menurut saya sungguh luar biasa.

Pertunjukan ini berlangsung selama kurang lebih 13 menit setiap hari pukul 8 malam. Kami berangkat dari Hung Hom dan menuju ke Tsim Sha Tsui menggunakan MTR lalu berjalan menuju ke sana. Sesampainya di sana, kami agak terkejut karena tempatnya ramai sekali dipenuhi wisatawan dari berbagai negara. Saya bersama teman-teman sangat menikmati tarian cahaya di atas gedung-gedung pencakar langit itu.

Berjalan beberapa meter di sekitar Victoria Harbour, kamu akan menemukan Avenue of Stars. Avenue of Stars sendiri adalah Walk of Fame-nya Hong Kong. Di jalan terlihat cap tangan beberapa bintang ternama Hong Kong dan Tiongkok. Jujur, tak ada satu pun dari nama-nama artis yang saya kenal di situ, kecuali Jackie Chan.

Melihat Hong Kong dari ketinggian di The Peak

Pemandangan Hong Kong dari The Peak

Pemandangan Hong Kong dari The Peak (Sumber: Dok. Pribadi)

The Peak adalah titik tertinggi Hong Kong dan merupakan tujuan wajib para traveler ketika mengunjungi Hong Kong. Untuk menuju The Peak, kamu bisa naik MTR dari Central, lalu melanjukan perjalanan dengan naik taksi atau bus. Selain itu, kamu juga bisa naik trem yang sudah berusia 120 tahun untuk menuju ke puncak. Tarif trem adalah 77 dolar untuk sekali jalan dan 90 dolar untuk perjalanan PP. Berhubung kami memang hemat, ya kami memutuskan naik MTR dan bus yang jauh lebih murah.

Kami berkunjung ke The Peak ditemani oleh seorang teman asal Madiun yang sudah tinggal di Hong Kong selama 14 tahun. Pertama, kami menuju ke Victoria Park, sebuah taman yang terletak tak jauh dari stasiun trem. Setelah itu, baru kami melanjutkan perjalanan ke The Peak Tower yang merupakan bangunan paling tinggi di sana.

Di bangunan tersebut terdapat sebuah tempat bernama Sky Terrace 428 yang memungkinkan pengunjung melihat pemandangan Hong Kong dari ketinggian. Masalahnya, untuk menuju ke Sky Terrace 428 tersebut, kami harus membayar tiket masuk seharga 40 dolar. Jelas, kami pun langsung membatalkan niat dan malah foto bareng patung Bruce Lee di Museum Madame Tussauds yang juga berada di komplek ini.

Sky Terrace 428

Sky Terrace 428 (Sumber: Dok. Pribadi)

Keuntungan punya “guide” ini adalah kami bisa diajak ke tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi dengan gratis. Teman saya ini kemudian membawa kami ke The Peak Galleria yang merupakan sebuah pusat perbelanjaan dan terdiri dari beberapa lantai. Dari atas, kami bisa melihat keindahan Hong Kong dari atas ketinggian tanpa perlu mengeluarkan biaya sedikit pun!

Belanja barang murah di Ladies Market

Ladies Market

Suasana Ladies Market (Sumber: Dok. Pribadi)

Hong Kong memang dikenal sebagai tujuan berbelanja. Jadi tak mengherankan kalau banyak traveler yang menyempatkan diri untuk berburu barang-barang sebagai oleh-oleh atau untuk diri sendiri. Salah satu tempat yang menjadi incaran para traveler untuk berbelanja adalah Ladies Market.

Souvenirs Hongkong di Ladies Market (Sumber: Dok. Pribadi)

Ladies Market terletak di kawasan Mongkok dan sangat mudah dijangkau dengan bus juga MRT. Bisa dibilang, tempat ini adalah Pasar Malioboro-nya Hong Kong. Di sinilah tempatnya belanja sepuasnya dengan harga yang ramah di kantong.

Mendaki gunung  dan lewati lembah di Lamma Island

Lamma Island

Lamma Island (Sumber: Dok. Pribadi)

Tidak begitu banyak turis yang berkunjung ke Lamma Island. Entah karena jauh atau mungkin karena tidak begitu populer. Saat berada di Lamma Island, saya hanya bisa menemukan beberapa turis asing di dalam kapal feri yang mengantarkan kami dari Central ke Lamma Island. Harga tiketnya sendiri adalah 17 dolar sekali jalan dengan perjalanan yang hanya ditempuh dalam waktu 20 menit saja.

Pemandangan dari Atas Bukit di Lamma

Pemandangan dari Atas Bukit di Lamma (Sumber: Dok. Pribadi)

Lamma Island adalah pulau terbesar ketiga di Hong Kong dengan rata-rata penduduk yang bekerja sebagai nelayan. Di pulau ini tidak ada transportasi umum, satu-satunya cara untuk bepergian adalah dengan jalan kaki atau naik sepeda.

Kami sampai di dermaga Yung Shue Wan tepat tengah hari di saat matahari sedang panas-panasnya. Kami memutuskan untuk pergi ke pantai terdekat, yaitu Pantai Hung Shing Yeh. Pantai ini memiliki hamparan pasir berwarna putih dan air yang jernih. Selain itu, pantai ini juga dikelilingi oleh bebatuan besar dan perbukitan yang hijau dan asri.

Bicara soal bebatuan di sekitar pantai, kami sempat melaksanakan salat di atas bebatuan karena tak meneukan musala. Karena memakai celana pendek dan tak membawa sarung, saya harus meminjam bawahan mukena teman saya. Lucunya, angin pantai yang tak bersahabat membuat saya tampak memakai gaun karena bawahan mukena yang saya kenakan mengembang besar.

Email

Mengobrol asyik bersama para TKI/TKW di Victoria Park

Berada di Hong Kong bagi orang Indonesia, tak lengkap rasanya jika tak mampir ke Victoria Park. Taman kota ini menjadi tempat berkumpulnya para TKI/TKW di waktu senggang, biasanya saat akhir pekan. Berbincang dengan mereka, saya jadi tahu banyak hal baru. Di antara mereka, ada yang sudah lebih dari 10 tahun berada di Hong Kong dan tak pulang sama sekali.

Victoria Par

Victoria Park (Sumber: Dok. Pribadi)

Sulit membayangkan bagaimana mereka bisa bertahan dan jauh dari keluarga. Mereka banyak bercerita tentang suka duka bekerja di negeri orang, juga kerinduannya pada kampung halaman. Apalagi, sebagian TKW ini memiliki anak yang dititipkan pada kakek-neneknya di kampung.

Dari perbincangan ini, saya jadi lebih menghargai para TKI/TKW yang berjuang keras untuk kesejahteraan keluarga dan menyumbangkan devisa negara.

Perjalanan ke Hong Kong membuat saya berpikir lagi, ternyata, negara ini tak menjadi destinasi wisata semata. Lebih dari itu, Hong Kong menjadi labuhan banyak orang yang bergerak dari Indonesia untuk mencari nafkah. Tapi kalau dipikir lagi, bekerja di sini juga ada untungnya, kamu bisa menikmati keindahan Hong Kong pada hari libur tanpa harus keluar biaya untuk tiket pesawat dan berangkat dari Indonesia.

Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !
Tags