3 Hari Menjelajah Penang, Ini 3 Hal Menakjubkan yang Saya Dapatkan

Rahmat Hidayah
By Rahmat Hidayah 07 November 2016

Artikel ini merupakan kontribusi dari pembaca*

Sebelum melakukan perjalanan ke Penang, tidak banyak yang saya tahu tentang kota ini kecuali laksa yang menjadi salah satu kuliner populer di sini dan Penang Bridge. Harus saya akui, alasan terbesar yang membuat saya mengunjungi Penang pada pertengahan Agustus lalu adalah kulinernya. Selain itu, jarak antara Malaysia dan Indonesia yang tidak jauh dan kemudahan mencari penerbangan ke Penang juga menjadi alasan lainnya.

Selama tiga hari di Penang dan sekitarnya, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru dan merasakan pengalaman unik. Untuk kamu yang masih penasaran dengan apa yang bisa didapatkan dari Penang dan sekitarnya, saya telah merangkum perjalanan saya dan teman ke Penang selama tiga hari. Berikut hal  yang saya temukan di Penang:

1. George Town, sebuah kota menyerupai museum dan galeri seni

Suasana George Town di malam hari. (Foto: Dokumen pribadi)

Suasana George Town di malam hari. (Foto: Dokumen pribadi)

George Town merupakan ibu kota dari negara bagian Penang. Memasuki kota ini, saya disambut deretan  bangunan tua dengan arsitektur yang dipengaruhi oleh beragam budaya. Di sini, tak sulit menemukan bangunan bergaya kolonial Inggris, India, dan China. Kalau kamu suka segala hal tentang bangunan bersejarah, George Town adalah destinasi yang tepat untukmu.

Di antara bangunan toko, gedung perkantoran, dan restoran, terdapat banyak tempat peribadatan yang menarik untuk dikunjungi seperti kuil Hindu dan Buddha, di antaranya Kuil Sri Mahamariamman dan Kuil Goddess of Mercy. Ada juga Masjid Kapitan Keling, sebuah bangunan masjid kuno peninggalan abad ke-19 yang desain interiornya mengingatkan pada beberapa kuil Hindu yang pernah saya datangi.

Deretan patung Buddha di satu sudut Kuil Kek Lok Si. (Foto: Dokumen pribadi)

Deretan patung Buddha di satu sudut Kuil Kek Lok Si. (Foto: Dokumen pribadi)

Bergeser keluar sedikit dari George Town, kami mengunjungi Kuil Kek Lok Si yang konon merupakan kuil Buddha terbesar di Malaysia. Mulai diibangun pada tahun 1890, kuil ini dipenuhi dengan patung Buddha dalam berbagai ukuran. Bangunan kuil didominasi warna putih dan emas, sedangkan dindingnya penuh ukiran kayu yang cantik dan sangat detail.

Bangunan kuno lain yang tak boleh kamu lewatkan adalah Fort Cornwallis yang merupakan benteng peninggalan bangsa Inggris di pesisir Penang dan Queen Victoria Memorial Clock Tower, menara jam ikonis di Penang.

Tampaknya, mural ini sengaja didesain agar pengunjung bisa ikut berinteraksi, seperti saya yang ikut mengantre beli susu kedelai. (Foto: Dokumen pribadi)

Tampaknya, mural ini sengaja didesain agar pengunjung bisa ikut berinteraksi, seperti saya yang ikut mengantre beli susu kedelai. (Foto: Dokumen pribadi)

Satu lagi yang menarik dari George Town adalah pameran mural karya Ernest Zacharevic. Mural hasil tangan kreatif seniman kelahiran Lithuania ini tersebar di beberapa titik kota George Town. Karya Zacharevic memiliki ciri khas tersendiri, di mana ia memadukan gambar di tembok dengan beragam properti seperti sepeda dan kereta belanja. Di sini, kamu bebas memotret dan menjelajah setiap sudut kota berhiaskan mural tersebut.

Salah satu mural yang menggunakan kursi sebagai atributnya. (Foto: Dokumen pribadi)

Salah satu mural yang menggunakan kursi sebagai atributnya. (Foto: Dokumen pribadi)

2. Banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi secara gratis

Jalur trekking di Penang National Park. (Foto: Dokumen pribadi)

Jalur trekking di Penang National Park. (Foto: Dokumen pribadi)

Bisa dibilang, Penang adalah surga bagi para backpacker karena di sini, kamu bisa mengunjungi beragam tempat ciamik dengan gratis! Salah satu tempat gratis yang saya kunjungi bersama teman adalah Penang National Park. Saran saya, sebaiknya kamu berangkat pagi dan menghabiskan waktu seharian penuh di sini. Dijamin, kamu tak akan merasa bosan karena banyaknya kegiatan seru yang bisa kamu lakukan selama di sini.

Salah satu pantai yang kami lewati saat melakukan trekking di Penang National Park. (Foto: Dokumen pribadi)

Salah satu pantai yang kami lewati saat melakukan trekking di Penang National Park. (Foto: Dokumen pribadi)

Tak mau membuang waktu, jam delapan pagi, kami sudah siap memulai petualangan dengan memasuki pintu utama Penang National Park. Tujuan kami adalah Rumah Api Muka Head. Bagi yang bingung, rumah api adalah bahasa Melayu untuk mercusuar. Sepanjang perjalanan, kami melewati jalan setapak di tengah hutan dan menyusuri garis pantai.

Bekas longsoran tebing yang harus kami lewati. (Foto: Dokumen pribadi)

Bekas longsoran tebing yang harus kami lewati. (Foto: Dokumen pribadi)

Bahkan di beberapa bagian jalan, kami harus melewati bekas tebing yang longsor beberapa hari sebelumnya. Demi keamanan, kami melintas dengan berpegangan pada seutas tali yang dihubungkan dari satu pohon ke pohon lainnya. Sejumlah petugas juga terlihat sedang melakukan beberapa perbaikan yang diperlukan di lokasi bekas longsor.

Sebelum benar-benar mencapai Rumah Api Muka Head, kami berhenti sebentar di Monkey Beach untuk menikmati pemandangan sekaligus makan siang dengan bekal yang kami bawa. Pantai ini bersih dan cukup ramai saat kami datang, banyak pengunjung yang berjemur dan bermain air.

Pemandangan dari puncak Rumah Api Muka Head. (Foto: Dokumen pribadi)

Pemandangan dari puncak Rumah Api Muka Head. (Foto: Dokumen pribadi)

Dari Monkey Beach, kami lanjut berjalan sekitar 15 menit untuk tiba di Rumah Api Muka Head. Tak mau membuang waktu, kami langsung naik ke puncak menara dan menyaksikan lanskap Penang dan sekitarnya. Rasanya, kelelahan kami terbayar tuntas. Setelah sekitar satu jam berada di Rumah Api Muka Head, kami kembali ke Monkey Beach. Beranjak sore, kami memutuskan untuk naik perahu dari Monkey Beach ke pintu gerbang utama agar tidak terjebak di Penang National Park saat gelap. Tarif naik perahu ini RM 40 per perahu yang bisa memuat hingga 10 penumpang.

Cara kami menikmati pemandangan di puncak Rumah Api Muka Head? Tentunya dengan wefie. (Foto: Dokumen pribadi)

Cara kami menikmati pemandangan di puncak Rumah Api Muka Head? Tentunya dengan wefie. (Foto: Dokumen pribadi)

3. Penang surganya kuliner enak

Penampakan dari fish tikka. (Sumber: Shutterstock)

Penampakan dari fish tikka. (Sumber: Shutterstock)

Apalah arti liburan tanpa melakukan jelajah kuliner setempat? Saya dan teman-teman pun memanfaatkan waktu liburan kami sebaik-baiknya untuk mencicipi kuliner populer di Penang dan sekitarnya. Selama di sini, makanan favorit kami adalah chicken tandoori dan nasi biryani di Kapitan Restaurant George Town, juga martabak kambing di Hameediyah Tandoori House. Jangan sampai kamu melewatkan kuliner ini saat berkunjung ke Penang. Menu lain yang tak kalah nikmat disantap adalah chicken masala dan fish tikka.

Untuk minuman, limau ais (es limau) dan teh tarik jadi favorit kami. Selain itu, kami juga mencoba jenis minuman yang baru bagi kami, yaitu lassi. Lassi merupakan minuman berupa jus buah campur yoghurt. Saya sendiri mencoba rasa apel tapi kurang puas dengan rasanya. Barangkali di lidahmu, lassi apel ini cocok, atau mungkin kamu ingin mencoba lassi dengan rasa lain.

Untuk oleh-oleh khas Penang, kami membeli kue tambun, biskuit pala dan durian. Kue tambun ini bentuk dan teksturnya mirip bakpia Jogja dengan isi yang juga bervariasi. Sedangkan biskuit pala, seperti namanya, tentu saja berbahan dasar buah pala yang saat dimakan menghadirkan sensasi rasa hangat di lidah.

Tips selama liburan ke Penang

Berangkat dari kunjungan singkat kami, kami bisa memberikan sedikit tips untuk kamu yang akan berlibur ke Penang:

  • Siapkan uang pas untuk naik kendaraan umum

Bus Rapid Penang menjadi transportasi utama kami selama di Penang. Sayangnya, ongkos bus tidak bisa dibayar dengan e-ticket seperti TransJakarta. Tarif bus ini disesuaikan dengan jarak yang ditempuh setiap penumpang dan jumlahnya pun bervariasi, misalnya RM 3,2 dan RM 4,3. Sopir tidak menyiapkan uang kembalian jika kamu membayar dengan jumlah lebih.

Karena di Indonesia tidak ada pecahan sen, membayar dalam jumlah pas sampai ke satuan sen merupakan hal baru bagi kami. Hal ini membuat kami harus menyimpan setiap sen yang kami dapatkan dari kembalian uang belanja, untuk membayar ongkos bus dalam jumlah yang tepat.

  • Bingung pakai bahasa apa? Coba bahasa Melayu

Di Penang, bahasa umum yang yang digunakan dalam percakapan sehari-hari adalah bahasa Melayu. Bahasa lain yang banyak digunakan adalah bahasa Inggris, Tamil, Hokkien, dan Mandarin. Untuk amannya, kamu sebaiknya menggunakan bahasa Melayu. Seharusnya bahasa Melayu tidak terlalu sulit karena tak berbeda jauh dengan bahasa Indonesia.

Perjalanan tiga hari ini membuat saya sadar bahwa Penang tak hanya soal kuliner, tapi lebih dari itu. Penang sangat menarik untuk dikunjungi karena keragaman budayanya, juga arsitektur bangunannya yang unik di mana tetap ada preservasi bangunan kuno di tengah-tengah bangunan modern yang menjulang tinggi. Saat ini, saya sedang merencanakan perjalanan selanjutnya ke belahan dunia yang berbeda. Bagaimana dengan kamu?

Artikel ini ditulis berdasarkan cerita perjalanan Rahmat S.B bersama tiga orang temannya ke Penang selama tiga hari.

Tulis komentarmu di sini:

Dapatkan Tips dan Informasi Wisata, GRATIS !
Tags